Oleh: Arin Fahrul Sanjaya, S.i.Kom
Direktur Eksekutif Jaringan Nasional Mahasiswa Merdeka.
Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Nahasiswa Indonesia IPPMI Konsel Jakarta
Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini berada pada titik krusial dalam sejarah pembangunan daerah. Kekayaan sumber daya alam, terutama di sektor pertambangan nikel, telah menjadikan Sultra sebagai magnet bagi investor nasional maupun internasional. Namun, yang menentukan apakah investasi itu memberi manfaat luas atau hanya menjadi angka-angka statistik adalah kepemimpinan dan arah kebijakan lokal. Dalam konteks inilah, nama Anton Timbang menempati posisi penting.
Sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sultra, Anton Timbang berhasil memainkan peran strategis dalam membuka gerbang investasi. Ia tidak hanya menghadirkan investor, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem bisnis yang kondusif. Sultra kini tidak lagi dipandang sebagai daerah pinggiran, melainkan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia.
Kontribusi Anton terlihat nyata dalam upaya membangun komunikasi lintas sektor: antara dunia usaha dengan pemerintah daerah, antara investor besar dengan pelaku UMKM lokal, serta antara kepentingan ekonomi dengan kebutuhan masyarakat. Dengan posisi tersebut, ia menjadi jembatan yang mempertemukan modal, kebijakan, dan aspirasi publik.
Meski demikian, investasi bukan tanpa risiko. Di balik geliat ekonomi, selalu ada potensi ketimpangan sosial, eksploitasi lingkungan, hingga konflik agraria. Karena itu, peran Kadin Sultra di bawah kepemimpinan Anton Timbang menjadi semakin kompleks: tidak hanya mendatangkan modal, tetapi juga memastikan bahwa investasi berjalan berkeadilan dan berkelanjutan.
Saya melihat Anton Timbang berusaha mendorong agar hilirisasi industri benar-benar memberi dampak nyata. Bukan sekadar proyek besar yang mencetak keuntungan investor, tetapi juga membuka lapangan kerja, mengangkat daya saing UMKM, dan menumbuhkan ekonomi rakyat. Langkah-langkah ini harus terus dipertahankan, bahkan diperkuat, agar Sultra tidak hanya menjadi “ladang subur” bagi pemodal, melainkan rumah yang ramah bagi masyarakatnya sendiri.
Tantangan ke depan masih banyak: regulasi yang sering tumpang tindih, infrastruktur yang belum merata, hingga kebutuhan peningkatan kapasitas SDM lokal. Di sinilah konsistensi kepemimpinan Anton Timbang diuji. Apakah ia mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan investasi dan keadilan sosial, antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Bagi saya, kontribusi Anton Timbang membuka gerbang investasi di Sultra adalah langkah awal yang harus diapresiasi. Tetapi langkah ini hanya akan bermakna jika diikuti dengan visi jangka panjang yang berpihak pada rakyat. Investasi sejatinya bukan hanya soal angka triliunan rupiah yang masuk ke daerah, melainkan bagaimana modal itu mampu mengubah wajah Sulawesi Tenggara: lebih sejahtera, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.






