Jakarta-DuaSatuNews-Narasi tentang “mafia tanah” yang saat ini menjadi trending topik di Kendari jika di lihat dari sudut pandang Issue Cycle Analysis bukanlah sekadar berita, melainkan sebuah operasi pengalihan isu yang dirancang dengan presisi tinggi. Ini bukan upaya penegakan hukum yang tulus, ini adalah skema penyelamatan diri yang dimainkan oleh elite kekuasaan yang kini mulai panik.
Perhatikanlah kejanggalannya. Dalam hitungan hari, seluruh sumber daya mulai dari konferensi pers, headline media utama, hingga drama penangkapan yang dipertontonkan di hadapan publik semua diarahkan pada satu titik, “mafia tanah”. Intensitasnya terlalu kencang, polanya terlalu seragam, seolah-olah ada command center tunggal yang mengendalikan alur berita.
Kita sedang disuguhi panggung sandiwara, di mana para pelaku kecil disajikan sebagai punching bag utama, sementara dalang sesungguhnya tetap berada di balik tirai, menikmati keberhasilan skema pengalihan ini. Tujuannya hanya satu: menciptakan ketakutan publik palsu untuk membius daya kritis masyarakat.
Mengapa manuver ini terjadi sekarang? Dari beberapa diskusi bersama tokoh-tokoh pengamat sulawesi tenggara, satu kesimpulan mengerucut yang penulis dapati, ada ancaman besar yang sesungguhnya sedang menghampiri para pemilik modal dan pemegang kekuasaan.
Sulawesi Tenggara sedang bergolak di bawah tekanan investigasi dari aparat pusat. Kasus-kasus yang mengancam jaringan oligarki lokal, mulai dari dugaan korupsi APBD ratusan miliar, mafia tambang, hingga rekayasa tender proyek infrastruktur raksasa.
Inilah bukti paling telanjang dari keberhasilan pengalihan ini. Kasus-kasus Mega Korupsi yang melibatkan uang rakyat ratusan miliar kini lenyap ditelan bumi, tidak lagi menjadi headline. Jejaring Mafia Tambang yang merusak lingkungan dan merampok kekayaan alam Bumi Anoa mendadak senyap tanpa ada penetapan tersangka baru. Perdebatan publik mengenai kebijakan dan perizinan strategis yang menjadi sumber bancakan kekuasaan mendadak hilang dari diskursus.
Saat ini, semua mata dipaksa fokus pada kasus tanah yang meski penting, adalah kasus kelas dua dibandingkan kehancuran finansial dan lingkungan yang disebabkan oleh elite yang sama yang saat ini sedang bersembunyi.
Kendari tidak sedang diselamatkan dari mafia tanah, Kendari sedang dipaksa untuk lupa pada korupsi sistemik dan kejahatan ekonomi yang sesungguhnya mengancam masa depan daerah. Ini adalah manipulasi kekuasaan yang sinis terhadap nalar publik.
Penulis : Saydul






