Nikel Menguat 5,2% di LME, Saham INCO hingga MBMA Berpotensi Diuntungkan
- account_circle Afs
- calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
- visibility 149
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Pasar nikel global kembali menguat menjelang akhir tahun. Pada pekan terakhir Desember 2025, harga nikel kontrak berjangka tiga bulan di London Metal Exchange (LME) tercatat melonjak 5,2% menjadi US$16.545 per ton. Level ini menjadi yang tertinggi dalam sembilan bulan terakhir.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh sinyal pengetatan pasokan dari Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengonfirmasi rencana pengurangan produksi bijih nikel nasional mulai 2026.
Meski pemerintah belum merinci besaran pemangkasan produksi, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan bahwa Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi bijih nikel tahun 2026 diperkirakan hanya sekitar 250 juta ton. Angka ini turun signifikan dibandingkan RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Stockbit Sekuritas digital dalam risetnya menilai kebijakan pembatasan produksi tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga nikel global agar tidak semakin tertekan oleh kondisi kelebihan pasokan.
Investment Analyst Stockbit, Theodorus Melvin, menilai lonjakan harga nikel dunia berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi saham-saham emiten sektor nikel. Beberapa emiten yang disebutkan antara lain PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
“Kenaikan harga ini dapat mendorong peningkatan harga jual rata-rata (ASP) sekaligus memperbaiki margin laba perusahaan,” ujar Theodorus dalam catatan riset terbarunya.
Sebagai catatan, berdasarkan data IDNFinancials.com, harga nikel sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Maret 2022, yakni di level US$48.211 per ton.
