Korut Uji Rudal Hipersonik, Kim Jong Un Tegaskan Perluas Daya Tangkal Nuklir
- account_circle adrian moita
- calendar_month Senin, 5 Jan 2026
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Beijing — Korea Utara kembali memanaskan situasi geopolitik kawasan Asia Timur. Pada Minggu (4/1), Pyongyang menguji coba rudal hipersonik yang diklaim mampu menghantam sasaran sejauh 1.000 kilometer di lepas pantai timur negara tersebut. Informasi itu disampaikan media resmi KCNA pada Senin.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un disebut memimpin langsung uji peluncuran rudal dari wilayah Pyongyang ke arah timur laut. Dalam keterangannya, Kim menegaskan bahwa penguatan kemampuan persenjataan strategis merupakan prioritas utama negaranya.
“Ini adalah tugas strategis yang sangat penting untuk mempertahankan dan memperluas daya tangkal nuklir yang kuat dan andal,” ujar Kim, seperti dikutip KCNA.
Ia menyebut uji coba tersebut membuktikan kesiapan kekuatan nuklir Korea Utara yang disebutnya “tanpa penyesalan” dan memberikan kepercayaan diri tinggi dalam menghadapi ancaman eksternal.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan bahwa sedikitnya dua rudal balistik diluncurkan dari pantai barat Korea Utara pada Minggu pagi, masing-masing sekitar pukul 07.54 dan 08.05 waktu setempat.
Menurut otoritas Jepang, kedua rudal itu mencapai ketinggian maksimum sekitar 50 kilometer dan terbang sejauh sekitar 900 kilometer dan 950 kilometer. Rudal-rudal tersebut diduga jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Dalam pernyataannya, Kim Jong Un juga menyerukan agar Korea Utara terus meningkatkan sarana militernya, khususnya sistem persenjataan ofensif. Ia menilai upaya untuk membuat “para pesaing terus-menerus menyadari kesiapan ofensif” Korut merupakan cara efektif untuk menerapkan daya tangkal perang.
Kim juga menegaskan bahwa aktivitas tersebut bertujuan membawa kemampuan daya tangkal perang nuklir Korea Utara ke tingkat yang lebih maju.
Secara tersirat, Kim menyinggung situasi geopolitik global, termasuk penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat, sebagai pembenaran atas kepemilikan senjata nuklir oleh Korut.
“Alasan perlunya senjata nuklir dapat dilihat dari krisis geopolitik baru-baru ini dan kompleksitas peristiwa internasional,” kata Kim.
Sejalan dengan itu, Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam keras serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Pyongyang menyebut aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan bentuk pelanggaran sewenang-wenang terhadap Piagam PBB serta hukum internasional.
Sejumlah media Korea Selatan menilai peluncuran rudal ini juga menjadi sinyal peringatan bagi Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, agar tidak mengangkat isu program nuklir Korea Utara.
Sebagai catatan, dalam parade militer di Pyongyang pada Oktober lalu, Korea Utara sempat memamerkan rudal balistik jarak pendek Hwasong-11 yang diklaim telah dipersenjatai hulu ledak hipersonik
