Peran Jurnalis Kian Dilupakan, Pers Indonesia Hadapi Krisis Identitas?
- account_circle Brian putra
- calendar_month Senin, 5 Jan 2026
- visibility 106
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Di tengah arus deras digitalisasi dan dominasi media sosial, peran jurnalis sebagai penjaga kebenaran dan kepentingan publik kian terpinggirkan. Pers Indonesia saat ini menghadapi krisis identitas yang serius: antara tetap menjalankan fungsi idealnya atau terjebak dalam logika kecepatan, klik, dan kepentingan ekonomi. (5/01/2026).
Jurnalisme yang seharusnya berlandaskan verifikasi, keberimbangan, dan etika kini sering kali kalah cepat dari opini viral, informasi mentah, bahkan disinformasi. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap media arus utama terus tergerus. Jurnalis tidak lagi dipandang sebagai rujukan utama kebenaran, melainkan sekadar salah satu suara di tengah kebisingan digital.
Tekanan industri turut memperparah kondisi ini. Tuntutan trafik, algoritma platform, serta kepentingan pemilik modal membuat sebagian media menjauh dari fungsi pers sebagai pilar demokrasi. Tidak sedikit jurnalis yang kehilangan ruang independensi, bahkan dipaksa mengaburkan batas antara karya jurnalistik dan konten pesanan.
Krisis identitas pers Indonesia juga tercermin dari melemahnya perlindungan terhadap jurnalis. Kekerasan, intimidasi, dan kriminalisasi terhadap kerja jurnalistik masih terjadi, sementara solidaritas dan keberpihakan publik belum sepenuhnya menguat.
Situasi ini menjadi peringatan bersama bahwa masa depan pers tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh komitmen pada nilai-nilai jurnalistik itu sendiri. Pers Indonesia perlu kembali menegaskan jati dirinya berpihak pada kebenaran, kepentingan publik, dan demokrasi bukan sekadar pada pasar.
Masyarakat, insan pers, lembaga pendidikan, dan negara memiliki tanggung jawab bersama untuk mengembalikan martabat jurnalisme. Tanpa pers yang kuat dan berintegritas, demokrasi akan kehilangan salah satu fondasi utamanya.

Saat ini belum ada komentar