Awas Perang Baru Arab Memanas, Saudi Bombardir Yaman
- account_circle RAHMAN
- calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
- visibility 85
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.Com Koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang Yaman, Rabu (7/1/2026). Militer kerajaan mengonfirmasi operasi tersebut dan menyebutnya sebagai “serangan pendahuluan terbatas” yang bertujuan menghentikan manuver kelompok separatis.
Serangan ini menjadi yang kedua dalam kurun dua pekan terakhir. Koalisi membidik kelompok Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) pimpinan Aidaros Alzubidi yang didukung Uni Emirat Arab (UEA). Kelompok itu dituding berupaya memperluas pengaruhnya dan mendorong pembentukan negara Yaman Selatan.
“Kami bekerja sama dengan pemerintah Yaman dan otoritas setempat untuk mendukung upaya keamanan dan menjaga ketertiban,” demikian pernyataan koalisi Saudi yang dikutip AFP.
Situasi keamanan di Yaman kembali memanas setelah kelompok separatis STC merebut sebagian besar wilayah strategis pada bulan lalu, termasuk sebagian besar Provinsi Hadramaut yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Dalam operasi tersebut, STC juga berhasil mengusir pasukan pemerintah Yaman yang selama ini mendapat dukungan dari Riyadh.
Perkembangan ini memicu kekhawatiran regional karena berpotensi membuka babak baru konflik di Jazirah Arab. Hadramaut selama ini dianggap sebagai wilayah vital karena posisinya yang strategis dan kedekatannya dengan perbatasan Saudi.
Namun, pada pekan lalu, koalisi pimpinan Arab Saudi mulai melancarkan serangan balasan. Operasi militer itu diklaim berhasil memukul mundur pasukan STC dari sejumlah wilayah yang sebelumnya dikuasai. Riyadh juga dilaporkan melayangkan peringatan keras kepada Uni Emirat Arab agar tidak memperkeruh situasi.
Pengamat menilai eskalasi ini berisiko memperdalam konflik internal Yaman yang belum sepenuhnya pulih dari perang panjang selama lebih dari satu dekade. Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, bentrokan antara koalisi sekutu sendiri dikhawatirkan akan memperluas instabilitas kawasan Timur Tengah.
