Perintah Tegas Prabowo: Swasembada Pangan dan Energi Wajib Terwujud, Ditegaskan Dua Kali di Hadapan Kabinet
- account_circle adrian moita
- calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
- visibility 65
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan dan swasembada energi merupakan keharusan mutlak bagi Indonesia. Penegasan itu disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan taklimat awal tahun kepada jajaran kabinet dan pimpinan lembaga negara di Jakarta, Selasa (6/1).
Dalam forum tersebut, Prabowo secara eksplisit mengulangi perintahnya hingga dua kali, sebagai penekanan atas urgensi dua sektor strategis tersebut di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Di tengah banyaknya peperangan dan konflik global, negara yang masih bergantung pada impor pangan dan energi akan sangat rentan. Indonesia tidak boleh berada dalam posisi itu,” tegas Prabowo.
Taklimat awal tahun itu dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Panglima TNI Agus Subiyanto, serta Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Di hadapan para pengambil keputusan tersebut, Presiden menekankan bahwa ketahanan nasional tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari kemampuan negara memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya secara mandiri.
Data Ketergantungan Impor Jadi Alarm
Presiden Prabowo menyinggung fakta bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan pada impor beberapa komoditas strategis. Berdasarkan data pemerintah dan BPS dalam beberapa tahun terakhir:
Impor pangan strategis seperti gandum, kedelai, dan gula masih berada pada kisaran 8–11 juta ton per tahun.
Impor energi, khususnya BBM, masih mencapai 600–700 ribu barel per hari, seiring menurunnya lifting minyak nasional yang berada di bawah 650 ribu barel per hari.
Fluktuasi harga energi global akibat konflik geopolitik kerap berdampak langsung pada APBN dan stabilitas harga dalam negeri.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut tidak bisa terus dibiarkan karena akan melemahkan posisi tawar Indonesia di tengah krisis global.
Instruksi Strategis Presiden
Dalam arahannya, Presiden Prabowo memberikan sejumlah garis besar kebijakan yang harus segera ditindaklanjuti oleh kabinet, antara lain:
Percepatan produksi pangan nasional, terutama beras, jagung, dan komoditas protein, melalui optimalisasi lahan, irigasi, dan teknologi pertanian.
Penguatan cadangan pangan nasional untuk menghadapi situasi darurat global.
Kemandirian energi, melalui peningkatan lifting migas, percepatan transisi energi, serta optimalisasi sumber energi domestik.
Koordinasi lintas kementerian dan aparat negara, termasuk peran TNI dan Polri, dalam menjaga distribusi dan keamanan pangan-energi.
“Ini Bukan Sekadar Target, Ini Perintah Negara”
Presiden menutup arahannya dengan penegasan bahwa swasembada pangan dan energi bukan sekadar program teknokratis, melainkan perintah strategis negara.
“Saya ulangi dua kali, karena ini menyangkut hidup-matinya bangsa dalam situasi krisis global. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Prabowo.
Pemerintah menargetkan dalam beberapa tahun ke depan Indonesia mampu mengurangi ketergantungan impor secara signifikan, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan nasional berbasis kemandirian pangan dan energi.

Saat ini belum ada komentar