Brian Putra: Jika Pertambangan di Sultra Dikelola dengan Baik, Daerah Akan Tumbuh Berkeadilan
- account_circle adrian moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 104
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com – Mahasiswa asal Sulawesi Tenggara yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Jakarta, BRIAN PUTRA, menegaskan bahwa sektor pertambangan di Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah, apabila dikelola secara baik, transparan, dan berkeadilan.
Menurut Brian, Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah dengan kekayaan sumber daya alam strategis, khususnya di sektor pertambangan mineral. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat jika tata kelolanya lemah dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
“Pertambangan di Sultra sejatinya bisa menjadi berkah. Tapi kuncinya ada pada tata kelola. Jika dikelola dengan baik, sesuai aturan, dan mengedepankan kepentingan masyarakat serta lingkungan, maka dampaknya akan sangat besar bagi pembangunan daerah,” ujar Brian dalam keterangannya di Jakarta.
Brian menilai, pengelolaan pertambangan yang ideal harus memenuhi prinsip kepatuhan hukum, keberlanjutan lingkungan, serta keadilan ekonomi. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap perusahaan tambang, mulai dari perizinan, operasional, hingga kewajiban reklamasi dan pascatambang.
“Negara dan pemerintah daerah harus memastikan setiap aktivitas tambang memberikan kontribusi nyata, baik melalui pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja lokal, maupun pembangunan sosial di sekitar wilayah tambang,” katanya.
Sebagai mahasiswa yang menempuh studi di ibu kota, Adrian menyebut generasi muda, khususnya mahasiswa asal daerah, memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan kepentingan daerahnya di tingkat nasional.
Ia menilai, Jakarta sebagai pusat kebijakan nasional menjadi ruang strategis bagi mahasiswa daerah untuk menyampaikan gagasan dan kritik konstruktif terkait pengelolaan sumber daya alam.
“Kami sebagai mahasiswa asal Sultra di Jakarta harus menjadi jembatan gagasan. Bukan anti investasi, tetapi mendorong investasi yang beretika, taat aturan, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal,” tegasnya.
Brian berharap, ke depan pengelolaan pertambangan di Sulawesi Tenggara tidak lagi identik dengan konflik sosial dan kerusakan lingkungan, melainkan menjadi contoh praktik pertambangan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
“Jika pertambangan dikelola dengan baik, Sultra tidak hanya kaya di atas kertas, tetapi benar-benar maju, mandiri, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakatnya,” pungkas Brian.
Rilis ini menegaskan bahwa tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab bukan hanya isu teknis, tetapi juga agenda moral dan politik pembangunan daerah yang harus diperjuangkan bersama.
