AS Tangkap Kapal Tanker Berbendera Rusia, Libatkan Minyak Venezuela
- account_circle adrian moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 96
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com — Ketegangan geopolitik memuncak setelah Amerika Serikat (AS) menyita dua kapal tanker minyak di Lautan Atlantik dan perairan Karibia pada Rabu (7/1/2026), dalam operasi yang berhubungan dengan upaya pemutusan ekspor minyak Venezuela yang dikenai sanksi. Aksi ini memicu reaksi keras dari Rusia dan meningkatkan tensi hubungan bilateral.
Operasi penyitaan melibatkan Marinera, kapal tanker berbendera Rusia yang sebelumnya dikenal sebagai Bella 1, serta M/T Sophia, yang ditangkap di kawasan Karibia. Pasukan AS menaiki Marinera setelah pengejaran hampir dua minggu di perairan Atlantik Utara. Kapal itu diduga terlibat dalam jaringan ekspor minyak Venezuela yang melanggar sanksi AS.
Otoritas AS menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari langkah lebih luas untuk menegakkan sanksi terhadap perdagangan minyak ilegal dan blokade ekspor minyak Venezuela yang dikenai embargo. Mereka menggambarkan Marinera sebagai bagian dari “armada bayangan” yang beroperasi tanpa kewarganegaraan jelas dan diduga menggunakan bendera palsu untuk mengelabui penegak hukum internasional.
Pemerintah Rusia mengecam keras penyitaan tersebut, menuding tindakan AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan merusak prinsip kedaulatan maritim. Moskow menegaskan kapal itu terdaftar secara sah di bawah bendera Rusia dengan izin sementara dan menyerukan perlakuan layak terhadap warga negaranya yang berada di atas kapal, serta meminta agar mereka diizinkan kembali ke tanah air.
Selain itu, Rusia menyatakan bahwa tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang sah secara internasional. Kritikus di Moskow bahkan menggambarkan langkah AS tersebut sebagai bentuk pembajakan laut (piracy) karena melibatkan kapal yang beroperasi di perairan internasiona.
Operasi penyitaan Marinera dilaporkan melibatkan bantuan logistik dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris, termasuk dukungan lewat udara dan laut selama pengejaran. Kapal kedua, M/T Sophia, disita tak lama setelah itu di kawasan Karibia setelah dituduh melakukan aktivitas ilegal.
Gedung Putih membela langkah AS sebagai bagian dari upaya memblokade ekspor minyak yang melanggar sanksi. Pejabat AS menyatakan bahwa hasil dari minyak yang disita akan dijual di pasar internasional dan hasilnya dapat memberikan manfaat ekonomi, termasuk bagi rakyat Venezuela.
Penyitaan ini terjadi di tengah operasi militer lebih luas AS terhadap kepemimpinan Venezuela dan ambisi kontrol atas sumber daya energi negara itu. Langkah AS memicu reaksi tidak hanya dari Rusia, tetapi juga mendapat kritik dari negara lain yang menilai tindakan tersebut bisa memperkeruh hubungan internasional dan menimbulkan preseden dalam hukum maritim global.
Situasi ini menandai eskalasi kebijakan sanksi energi global AS dan dapat berdampak signifikan terhadap dinamika pasar minyak internasional serta hubungan diplomatik besar negara-negara yang terkait
