BYD Salip Tesla, Jadi Raja Mobil Listrik Dunia
- account_circle adrian moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 96
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com — Perusahaan otomotif asal China, BYD, resmi merebut posisi produsen kendaraan listrik (EV) terlaris di dunia, menggeser dominasi Tesla yang selama bertahun-tahun memimpin pasar global.
Keberhasilan BYD terjadi di tengah tahun sulit bagi Tesla, yang dibayangi penurunan penjualan, persaingan global yang semakin ketat, serta sorotan terhadap aktivitas politik CEO-nya, Elon Musk.
Dikutip dari Sky News, Tesla melaporkan pengiriman 1,64 juta kendaraan sepanjang 2025, turun sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menandai penurunan penjualan dua tahun berturut-turut bagi raksasa EV asal Amerika Serikat tersebut.
Sebaliknya, BYD mencatat penjualan 2,26 juta kendaraan listrik pada 2025, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai produsen EV terbesar dunia.
Pada kuartal keempat 2025 (Oktober–Desember), Tesla hanya membukukan penjualan 418.227 unit, di bawah proyeksi analis sebesar 440.000. Unit berdasarkan survei FactSet.
Analis menilai, performa tersebut turut dipengaruhi oleh berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik senilai 7.500 dolar AS yang dihapus secara bertahap oleh pemerintahan Presiden Donald Trump pada akhir September 2025.
Meski penjualan melemah, saham Tesla tetap menutup tahun 2025 dengan kenaikan sekitar 11 persen. Investor masih menyimpan optimisme terhadap visi jangka panjang Elon Musk, terutama ambisinya menjadikan Tesla sebagai pemimpin layanan taksi robot (robotaxi).
Selain itu, Musk juga mendorong pengembangan robot humanoid yang diharapkan dapat melakukan tugas-tugas dasar di rumah dan kantor, meski proyek ini masih berada pada tahap awal adopsi pasar.
Kuartal terakhir 2025 menjadi periode penting bagi Tesla karena menjadi kuartal pertama penjualan versi sederhana dari Model Y dan Model 3, yang diperkenalkan pada awal Oktober untuk menghidupkan kembali permintaan.
Model Y terbaru dibanderol di bawah 40.000 dolar AS (sekitar Rp 671 juta)
Model 3 versi murah dijual di bawah 37.000 dolar AS (sekitar Rp 621 juta)
Strategi penurunan harga ini ditujukan untuk menghadang gempuran mobil listrik buatan China, khususnya di pasar Eropa dan Asia, di mana BYD dan merek China lain semakin agresif.
Menurut estimasi FactSet, laporan keuangan Tesla untuk kuartal IV 2025—yang akan dirilis pada akhir Januari—diperkirakan mencatat penurunan penjualan sekitar 3 persen serta penurunan laba per saham hampir 40 persen.
Namun, para analis memperkirakan tren negatif ini berpotensi berbalik arah menuju 2026, seiring peluncuran produk baru dan ekspansi teknologi otonom.
Di tengah tekanan kinerja, Elon Musk justru mengantongi kemenangan besar. Pada November 2025, ia memenangkan pemungutan suara pemegang saham yang membuka jalan bagi paket kompensasi senilai 1 triliun dolar AS (sekitar Rp 16 kuadriliun), dengan syarat Tesla mencapai target kinerja ambisius selama 10 tahun ke depan.
Tak hanya itu, bulan lalu Mahkamah Agung Delaware membatalkan putusan sebelumnya yang mencabut paket pembayaran 550 miliar dolar AS yang diberikan Tesla kepada Musk pada 2018—menambah panjang daftar kontroversi sekaligus keuntungan sang orang terkaya di dunia.
.
.
