Demo Biaya Hidup Guncang Teheran, Puluhan Orang Tewas
- account_circle adrian moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 67
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, duasatunews.com — Aksi demonstrasi besar pecah di ibu kota Teheran, Iran, pada Selasa (6/1/2026). Protes yang dipicu melonjaknya biaya hidup dan anjloknya nilai mata uang rial ini berujung rusuh dan menewaskan puluhan orang.
Lembaga swadaya masyarakat Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 27 demonstran tewas akibat tindakan aparat keamanan Iran. Dari jumlah tersebut, lima korban merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun.
Menurut IHR, situasi semakin memanas ketika aparat keamanan dilaporkan menyergap sebuah rumah sakit di kawasan Hasanabad, Teheran, dan menembakkan gas air mata ke dalam area rumah sakit. Tindakan tersebut dinilai melanggar prinsip kemanusiaan dan memperparah krisis HAM di negara itu.
Di sisi lain, Kepolisian Iran mengklaim sejumlah anggota aparat juga tewas dalam bentrokan dengan massa. Pernyataan tersebut disampaikan otoritas Iran dan dikutip kantor berita Agence France-Presse (AFP).
Dipicu Krisis Ekonomi dan Pelemahan Rial
Gelombang protes ini bermula pada 28 Desember 2025, diawali dengan penutupan massal toko-toko di pasar utama Teheran, yang dikenal sebagai jantung ekonomi nasional Iran. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi demonstrasi besar yang menyebar ke berbagai wilayah ibu kota, termasuk kawasan barat Teheran yang dihuni kelompok minoritas Kurdish dan Lor.
Para demonstran menyoroti meroketnya harga kebutuhan pokok, tingginya pengangguran, serta melemahnya nilai tukar rial Iran terhadap mata uang asing, yang dinilai telah menghancurkan daya beli masyarakat.
Slogan Politik dan Bayang-Bayang Revolusi
Sejumlah rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan massa meneriakkan slogan bernuansa politik seperti “Pahlavi akan kembali” dan “Sayyed Ali akan terguling”. Slogan tersebut merujuk pada dinasti Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, serta “Sayyed Ali” yang mengacu pada Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Ali Khamenei.
Pengamat menilai, munculnya slogan tersebut menandakan pergeseran tuntutan, dari semata isu ekonomi menuju kritik terbuka terhadap sistem politik dan kepemimpinan nasional.
Terbesar Sejak Tragedi Mahsa Amini
Aksi kali ini disebut sebagai gelombang protes terbesar sejak 2022–2023, ketika Iran diguncang demonstrasi nasional menyusul kematian Mahsa Amini di dalam tahanan polisi moral. Mahsa Amini ditangkap saat itu karena diduga melanggar aturan berpakaian yang berlaku di Iran.
Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan langkah konkret untuk meredam ketegangan, sementara kelompok HAM internasional terus mendesak investigasi independen atas jatuhnya korban jiwa dan dugaan pelanggaran HAM dalam penanganan demonstrasi.
Situasi di Teheran dan sejumlah wilayah lain dilaporkan masih tegang, dengan kehadiran aparat keamanan dalam jumlah besar dan pembatasan aktivitas publik di beberapa titik strategis.
