Pabrik baterai CATL di Karawang bakal beroperasi semester pertama tahun 2026
- account_circle adrian moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 150
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan proyek ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi hasil kerja sama konsorsium Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) akan segera diresmikan dan mulai berproduksi pada semester I-2026.
Kepastian tersebut disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia setelah proyek tersebut melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pada akhir Juni 2025 lalu di kawasan industri Karawang, Jawa Barat.
“Khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh Bapak Presiden Prabowo di Karawang, yang bekerja sama dengan CATL, direncanakan pada semester I-2026 sudah kita resmikan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Proyek pabrik baterai kendaraan listrik ini merupakan bagian hilir dari kerja sama strategis antara CATL dan IBC—yang merupakan joint venture Antam—dan dikenal sebagai Proyek Dragon. Proyek ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.
Bahlil mengungkapkan, nilai investasi resmi proyek ekosistem baterai EV tersebut mencapai US$ 5,9 miliar atau setara Rp 95,6 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.200 per dolar AS).
Dengan investasi tersebut, proyek ini akan memiliki kapasitas produksi hingga 15 gigawatt hour (GWh) per tahun, yang ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik domestik sekaligus pasar ekspor.
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa investasi jumbo tersebut akan dibagi ke dua wilayah strategis, yakni:
Maluku Utara sebesar US$ 4,7 miliar, sebagai pusat industri hulu, dan
Jawa Barat (Karawang) sebesar US$ 1,2 miliar, sebagai kawasan industri baterai hilir.
“Di wilayah Jawa Barat investasinya US$ 1,2 miliar dan yang US$ 4,7 miliarnya itu ada di Maluku Utara,” jelas Bahlil saat peresmian proyek di Karawang, Minggu (29/6/2025).
Ekosistem Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Menurut Bahlil, ekosistem baterai EV ini akan mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari:
Prekursor,
High Pressure Acid Leach (HPAL),
Katoda,
Battery cell, hingga
Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Seluruh proses hulu tersebut akan terpusat di Maluku Utara, sementara fasilitas di Karawang difokuskan pada produksi battery cell yang siap mendukung industri kendaraan listrik nasional.
“Ekosistem baterai ini, mulai dari prekursor, HPAL, katoda, battery cell, hingga RKEF ada di Maluku Utara. Di sini battery cell-nya sudah sampai dekat dengan pabrik,” imbuh Bahlil.
Pemerintah menilai proyek ini sebagai tonggak penting dalam agenda hilirisasi nikel nasional sekaligus upaya menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi baterai kendaraan listrik dunia. Dengan beroperasinya pabrik baterai EV terintegrasi ini pada semester I-2026, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam serta memperkuat daya saing industri hijau di tingkat global.

Saat ini belum ada komentar