Sudah Saatnya Menghadirkan Pendidikan Berorientasi Masa Depan
- account_circle Darman
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 95
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Manusia Indonesia masih dihadapkan dengan sengkarut permasalahan yang kompleks, lebih-lebih menyangkut soal sosial-budaya dan karakter mentalitas.
Dalam pandangan antropolog Koentjaraningrat, permasalahan tersebut mengerucut pada sikap menerabas, kurang bertanggung jawab, dan tidak disiplin. Mentalitas semacam ini dinilai menjadi penghambat dalam proses pembangunan manusia Indonesia secara menyeluruh.
Di sisi lain, wartawan senior Mochtar Lubis juga pernah menyoroti watak manusia Indonesia yang cenderung feodalistik. Pandangan tersebut kembali ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Menurutnya, mentalitas feodal itu kerap dibarengi dengan kecenderungan menyukai hal-hal yang bersifat hiburan semata.
Haedar menegaskan bahwa mentalitas seperti itu tidak boleh dibiarkan, melainkan harus ditransformasikan secara serius. Ia menilai pendidikan menjadi kunci utama dalam proses perubahan tersebut.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam telah memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan dan pengembangan pendidikan. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah konsisten menjadikan pendidikan sebagai pilar utama gerakan.
Ia juga mengingatkan pentingnya sikap kritis dan inovatif dalam dunia pendidikan. Menurutnya, lembaga pendidikan tidak boleh terjebak dalam rasa puas diri atau zona nyaman.
“Kalau kita berada di zona nyaman, pasti kualitasnya tidak akan meningkat,” tegas Haedar.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa transformasi mentalitas bangsa tidak dapat dilepaskan dari komitmen bersama untuk membangun pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan berorientasi pada kemajuan peradaban.

Saat ini belum ada komentar