BREAKING NEWS: Amerika Serikat Serang Venezuela & Tangkap Presiden Nicolás Maduro — Minyak Jadi Pemicunya
- account_circle adrian moita
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 109
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Dunia dikejutkan oleh serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada 3 Januari 2026, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores oleh pasukan AS. Operasi ini dianggap sebagai tindakan paling agresif Washington di Amerika Latin sejak invasi Panama 1989, dan memicu krisis geopolitik serius di kawasan.
Presiden Donald Trump mengklaim Maduro telah ditangkap atas tuduhan narkotika, termasuk narco-terrorism dan konspirasi impor kokain ke AS. Usai operasi militer, Maduro diterbangkan ke New York dan dibawa ke pengadilan di distrik selatan Manhattan.
Namun, pemerintah Venezuela mengecam penangkapan ini sebagai “penculikan”, sementara Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Delcy Rodríguez sebagai Presiden Sementara.
Di balik tuduhan narkoba, para analis internasional menyoroti kepentingan energi sebagai motif utama. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekitar 300 miliar barel, jauh melampaui AS, namun produksinya turun tajam akibat buruknya infrastruktur dan sanksi internasional.
Trump dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa perusahaan minyak besar AS akan masuk memperbaiki ladang minyak, membangun kembali fasilitas rusak, dan memanfaatkan cadangan Venezuela demi keuntungan ekonomi AS.
Para pengamat menilai pernyataan itu memperkuat dugaan bahwa akses atas sumber daya alam khususnya minyak adalah faktor penting di balik operasi militer dan perubahan rezim di Caracas.
Kabar penangkapan ini memicu kecaman luas:
Rusia menyebutnya sebagai “bencana bagi hubungan internasional” karena dianggap pelanggaran kedaulatan Venezuela.
Hukum internasional dinilai tidak mengizinkan AS mengadili kepala negara lain, komentar yang datang dari pakar hukum internasional.
Mantan pejabat AS juga mengkritik tindakan Trump sebagai “tidak bijak dan melanggar hukum internasional”.
Beberapa negara menilai operasi ini melanggar Piagam PBB dan kedaulatan Venezuela, memperburuk hubungan Washington dengan komunitas global.
Setelah penggulingan Maduro, pemerintahan interim Delcy Rodríguez mulai melaksanakan pembebasan tahanan politik atas permintaan AS, sebuah langkah yang dipuji oleh sebagian pihak namun tetap dipandang skeptis.
Menurut laporan internasional, AS tengah berupaya mengendalikan ekspor minyak Venezuela dalam jangka panjang, dengan rencana menjual puluhan juta barel ke pasar global suatu strategi yang akan mempengaruhi pasar minyak dunia dan geopolitik energi global.
Operasi ini tidak tanpa korban laporan menyebut puluhan anggota keamanan Venezuela dan personel Kuba tewas, serta sejumlah warga sipil cedera.
Peristiwa ini menandai momen penting dalam geopolitik global, di mana kepentingan energi dan keamanan berbaur dengan intervensi militer dan hukum internasional. Penangkapan Maduro telah membuka babak baru dalam hubungan AS–Venezuela dan berpotensi merombak peta pasar minyak dunia

Saat ini belum ada komentar