Dua Raksasa Tambang Mau Gabung, Siap-Siap Tembaga Naik
- account_circle Darman
- calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
- visibility 118
- comment 0 komentar
- print Cetak

ketgam : Ilustrasi/Foto.Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
jakarta, duasatunews.com – Rio Tinto tengah melakukan pembicaraan awal untuk mengakuisisi Glencore. Apabila kesepakatan ini terealisasi, penggabungan kedua entitas tersebut berpotensi membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar mendekati US$ 207 miliar. Informasi ini mengemuka di tengah meningkatnya konsolidasi industri tambang global, khususnya pada tembaga.
Berdasarkan laporan Reuters (Sabtu, 10/1/2026), dorongan utama di balik tren merger dan ekspansi ini adalah proyeksi lonjakan permintaan tembaga dalam jangka menengah hingga panjang. Secara empiris, tembaga merupakan material kunci dalam transisi energi digunakan secara luas pada kendaraan listrik, jaringan transmisi energi terbarukan, serta infrastruktur penyimpanan listrik.
Dari perspektif penawaran, produksi tembaga global menghadapi sejumlah kendala struktural. Proyek tambang baru membutuhkan investasi besar, waktu pengembangan panjang, serta menghadapi tantangan regulasi dan lingkungan yang semakin ketat. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan pasokan relatif lebih lambat dibandingkan laju permintaan Dalam kerangka ekonomi.
Dalam konteks tersebut, merger Rio Tinto dan Glencore dapat dipahami sebagai strategi rasional untuk memperkuat skala ekonomi, efisiensi operasional, dan penguasaan cadangan tembaga global. Konsolidasi memungkinkan optimalisasi aset, pengurangan biaya produksi, serta peningkatan daya tawar di pasar komoditas internasional.
Perlu dicatat, pembicaraan antara Rio Tinto dan Glencore bukanlah yang pertama. Dalam satu tahun terakhir, ini merupakan putaran kedua negosiasi, setelah pendekatan Glencore kepada Rio Tinto pada akhir 2024 tidak menghasilkan kesepakatan. Hingga saat ini, kedua perusahaan belum mengungkapkan secara rinci aset mana yang akan dimasukkan dalam potensi transaksi, sehingga dampak langsung terhadap struktur produksi global masih memerlukan kajian lanjutan.

Saat ini belum ada komentar