Pakar Mesir Nilai Penarikan AS dari Organisasi Internasional Berdampak Luas
- account_circle adrian moita
- calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suasana ruang sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. Para delegasi negara anggota mengikuti pertemuan resmi Dewan Keamanan yang membahas isu-isu keamanan dan perdamaian internasional.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAIRO, duasatunews.com — Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari puluhan organisasi internasional berpotensi berdampak luas terhadap negara-negara berkembang dan tatanan sistem internasional, menurut pandangan seorang pakar politik Mesir.
Dalam wawancara dengan Xinhua, Abu-Bakr Al-Desouky, pakar hubungan internasional dan penasihat editorial majalah International Politics di Al-Ahram Foundation, menyatakan bahwa penarikan tersebut dapat mengurangi sumber pendanaan penting bagi banyak organisasi internasional. Menurutnya, kondisi ini berisiko memengaruhi kapasitas operasional lembaga-lembaga tersebut, khususnya di kawasan berkembang.
Al-Desouky menilai hilangnya kontribusi pendanaan dari Amerika Serikat dapat berdampak pada kualitas dan skala program yang dijalankan organisasi internasional, termasuk di bidang pembangunan, kemanusiaan, dan bantuan internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (7/1) menandatangani sebuah memorandum yang mengarahkan pemerintah AS untuk menarik diri dari 66 organisasi internasional. Dari jumlah tersebut, 31 merupakan entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 lainnya organisasi non-PBB.
Organisasi yang terdampak mencakup berbagai sektor, antara lain iklim, tenaga kerja, imigrasi, dan energi. Beberapa di antaranya adalah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), UN Water, UN Energy, serta Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD).
Pemerintah AS melalui Gedung Putih menyatakan bahwa sejumlah organisasi tersebut dinilai mendukung kebijakan yang tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi dan kedaulatan nasional Amerika Serikat. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut beberapa entitas tersebut tidak efisien atau tidak memberikan manfaat yang sebanding dengan kontribusi AS.
Menurut Al-Desouky, kebijakan penarikan tersebut juga dapat berdampak terhadap persepsi internasional terhadap peran global Amerika Serikat. Ia menilai langkah tersebut berpotensi memengaruhi posisi AS dalam sistem organisasi internasional yang telah berkembang selama beberapa dekade.
Sebelumnya, Amerika Serikat juga telah menarik diri dari sejumlah lembaga dan perjanjian internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Perjanjian Iklim Paris, serta Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC). Selain itu, Washington menghentikan pendanaan bagi Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Al-Desouky menilai penghentian dukungan terhadap UNRWA berdampak signifikan terhadap operasional lembaga tersebut, mengingat kontribusi AS merupakan salah satu sumber pendanaan utama. Menurutnya, kebijakan tersebut juga berimplikasi terhadap peran AS dalam isu-isu kawasan Timur Tengah.
Lebih lanjut, Al-Desouky berpandangan bahwa perubahan arah kebijakan luar negeri AS dapat mendorong penguatan kerja sama internasional alternatif. Ia menyebut organisasi seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dan BRICS berpotensi semakin berperan dalam dinamika global, seiring dengan meningkatnya pencarian mitra strategis oleh negara-negara berkembang.
