Indonesia Resmi Terpilih sebagai Presiden Dewan HAM PBB
- account_circle Darman
- calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
- visibility 121
- comment 0 komentar
- print Cetak

ketgam : indonesia resmi terpilih presiden HAM PBB, Swiss (08/1/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com — Presiden Dewan HAM PBB kini dijabat Indonesia untuk pertama kalinya sejak pembentukan lembaga tersebut. Sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Kamis (8/1/2026), menetapkan Indonesia sebagai pemimpin forum HAM global dan membuka babak baru diplomasi multilateral Indonesia.
Dalam sidang itu, Indonesia menunjuk Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Duta Besar Sidarto Reza Suryodipuro, untuk memimpin Dewan HAM. Selanjutnya, Indonesia membawa tema “A President for All” sebagai arah kepemimpinan yang menekankan dialog, inklusivitas, dan keseimbangan kepentingan antarnegara.
Melalui kepemimpinan tersebut, Presiden Dewan HAM PBB dari Indonesia memperkuat konsensus di antara negara anggota. Selain itu, Indonesia meningkatkan efektivitas kerja Dewan agar mampu merespons isu HAM secara cepat dan terukur. Pada saat yang sama, Indonesia menjaga kredibilitas Dewan HAM dalam sistem multilateral Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sebagai organ utama PBB, Dewan HAM PBB menjalankan mandat promosi dan perlindungan hak asasi manusia di seluruh dunia. Oleh karena itu, pimpinan Dewan memegang peran strategis. Pimpinan sidang mengatur agenda, memimpin proses deliberasi, serta memfasilitasi dialog antarnegara dengan kepentingan berbeda.
Terpilihnya Indonesia mencerminkan konsistensi kebijakan luar negeri yang selama ini mengedepankan pendekatan moderat dan dialogis. Rekam jejak diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional turut memperkuat legitimasi tersebut. Selain itu, Indonesia kerap berperan sebagai jembatan antara negara berkembang dan negara maju dalam isu sensitif.
Di tengah eskalasi krisis HAM global, mulai dari konflik bersenjata hingga pelanggaran hak sipil, kepemimpinan Indonesia menghadapi tantangan nyata. Namun, posisi strategis ini memberi ruang bagi Indonesia untuk mendorong dialog konstruktif, menurunkan ketegangan politik, dan menjaga proses pengambilan keputusan tetap inklusif.
Dalam konteks tersebut, Presiden Dewan HAM PBB memberi Indonesia peluang untuk memperkuat peran diplomasi damai. Keberhasilan kepemimpinan ini bergantung pada kapasitas manajerial, ketegasan prosedural, serta kemampuan membangun kepercayaan antarnegara, bukan semata pada pernyataan normatif.

Saat ini belum ada komentar