Eni Samayati : Hilirisasi Pertambangan Menjadi Motor Penggerak Kesejahteraan Rakyat
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
- visibility 1.601
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ket: Dr. Eni Samayati,
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seminar Nasional Hilirisasi Sultra Dorong Keadilan Energi
Jakarta, duasatunews.com |Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Daerah (LP2D) menggelar seminar nasional bertema hilirisasi dan energi baru terbarukan (EBT) di Kota Kendari, Selasa (20/5/2025). LP2D bekerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan PUSPIN-EBT dalam kegiatan ini.
Seminar tersebut mendapat dukungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), KADIN Sulawesi Tenggara, serta sejumlah perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Sultra.
Hilirisasi sebagai Arah Baru Pembangunan
Ketua Panitia Penyelenggara, Dr. Eni Samayati, menegaskan bahwa hilirisasi tidak sekadar proses industri. Menurutnya, hilirisasi merupakan arah baru pembangunan nasional yang harus menghadirkan nilai tambah, keberlanjutan, dan kesejahteraan rakyat.
“Ketika kita berbicara tentang hilirisasi, kita tidak bisa melewatkan peran Sulawesi Tenggara,” ujar Eni dalam sambutannya.
Ia menyebut Sulawesi Tenggara sebagai tanah harapan yang menyimpan kekayaan besar. Daerah ini memiliki sumber daya pertambangan seperti nikel, emas, dan aspal, serta potensi energi baru terbarukan. Potensi tersebut meliputi tenaga surya, arus laut, angin, bioenergi, hingga panas bumi.

Potensi Besar, Tantangan Sosial Masih Nyata
Eni menjelaskan bahwa pengelolaan potensi tersebut secara tepat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Selain itu, pengelolaan yang adil juga mampu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat.
Namun, ia menyoroti adanya kontradiksi pembangunan di Sulawesi Tenggara. Di satu sisi, kekayaan mineral daerah ini menarik perhatian dunia. Di sisi lain, masih banyak masyarakat lokal yang tertinggal, terutama dalam akses pendidikan.
Kisah Dusun Kaudani, Alarm Pembangunan Inklusif
Sebagai contoh nyata, Eni menceritakan kondisi Dusun Kaudani di Kabupaten Buton Tengah, yang dihuni masyarakat Suku Bajo. Dari sekitar 147 anak usia sekolah di dusun tersebut, hanya satu anak yang mampu melanjutkan pendidikan.
“Mereka tidak berhenti sekolah karena tidak mau belajar. Mereka terhambat oleh jarak, kemiskinan, dan keterbatasan fasilitas dasar,” jelasnya.
Menurut Eni, kondisi ini mencerminkan satu generasi yang terancam kehilangan masa depan akibat sistem pembangunan yang belum inklusif.
Dorong Peran Tambang dan Pemerintah Daerah
Eni menegaskan bahwa seminar nasional ini tidak hanya menjadi forum diskusi teknis. Ia berharap seminar ini mampu menjadi ruang refleksi bersama agar kebijakan hilirisasi benar-benar menyentuh masyarakat di wilayah pinggiran.
Ia mendorong perusahaan pertambangan untuk berperan aktif dalam pembangunan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Selain itu, ia juga meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menjadikan wilayah seperti Dusun Kaudani sebagai prioritas kebijakan.
“Seminar ini harus menjadi titik balik. Kita tidak boleh hanya mengejar nilai tambah ekonomi, tetapi juga nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Hilirisasi sebagai Jalan Keadilan Pembangunan
Eni menutup sambutannya dengan menekankan bahwa hilirisasi harus menjadi jembatan, bukan sekat. Energi dan mineral yang diolah harus membawa manfaat hingga ke desa-desa yang masih tertinggal.
“Tambang bukan sekadar kekayaan alam, tetapi tanggung jawab moral. Hilirisasi harus menjadi jalan menuju keadilan pembangunan,” pungkasnya.

Saat ini belum ada komentar