Green Earth Movement,: “Polda sultra Diam di Tengah Maraknya Mafia Nikel di Sultra, Kapolri Harus Evaluasi”.
- account_circle Afs
- calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
- visibility 366
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, 10 September 2025 —
Green Earth Movement (GEM), organisasi pemerhati lingkungan dan advokasi keadilan sosial, menyatakan keprihatinan mendalam atas semakin merajalelanya aktivitas tambang ilegal dan keberadaan mafia nikel di Sulawesi Tenggara (Sultra). Kondisi ini dinilai memperlihatkan meredupnya semangat dan nilai-nilai ksatria Bhayangkara, khususnya dalam tubuh aparat kepolisian di daerah.
Direktur GEM, Arin Fahrul Sanjaya, menegaskan bahwa saat ini telah terjadi pembiaran terhadap praktik tambang ilegal yang tidak hanya merusak lingkungan secara masif, tetapi juga menimbulkan konflik sosial, pengabaian hak masyarakat, serta dugaan kuat keterlibatan oknum-oknum penegak hukum.
“Kami melihat adanya pembiaran sistematis yang mencederai prinsip penegakan hukum. Banyak laporan masyarakat yang tak ditindaklanjuti, sementara tambang-tambang ilegal terus beroperasi secara terang-terangan. Jika aparat tidak lagi berdiri di sisi keadilan, lalu kepada siapa rakyat harus mengadu?” ujar Arin Fahrul Sanjaya.
Menurut Arin, lemahnya tindakan dari Polda Sultra menimbulkan pertanyaan besar terhadap integritas dan independensi aparat dalam menindak mafia tambang. Oleh karena itu, GEM secara tegas mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mengevaluasi kinerja Kapolda Sultra dan melakukan pembenahan menyeluruh.
“Kapolri harus segera mengambil langkah tegas. Evaluasi terhadap Kapolda Sultra adalah keharusan, bukan opsi. Jika dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk bagi citra Polri di mata publik,” tambah Arin.
GEM menilai bahwa kejahatan lingkungan yang melibatkan aktor-aktor kuat, baik dari kalangan pengusaha maupun aparat, tak akan pernah tersentuh hukum tanpa tekanan serius dari pusat dan dukungan masyarakat sipil.
“Kami tidak akan berhenti bersuara. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan generasi, kedaulatan negara, dan keberanian aparat penegak hukum untuk berpihak kepada kebenaran,” tutup Arin Fahrul Sanjaya.
GEM mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media, mahasiswa, organisasi sipil, dan tokoh adat untuk bersatu dalam perjuangan melawan mafia tambang dan menyelamatkan bumi Sultra dari kehancuran ekologis.

Saat ini belum ada komentar