Emiten Logistik Energi Diuntungkan Eskalasi Konflik Timur Tengah
- account_circle adrian moita
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 154
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kapal tanker minyak berlayar di perairan internasional sebagai bagian dari rantai logistik energi global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (duasatunews.com) — Emiten logistik energi berada pada posisi menguntungkan seiring pengetatan pasokan minyak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar atas kelancaran distribusi minyak dunia dan mendorong perubahan strategi logistik energi.
Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan eskalasi konflik meningkatkan risiko gangguan jalur distribusi energi global. Ia menilai pelaku pasar memusatkan perhatian pada Selat Hormuz karena jalur ini menampung sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Ancaman Selat Hormuz Paksa Perubahan Rute
Jika gangguan terjadi di Selat Hormuz, perusahaan pelayaran global akan mengalihkan rute pengiriman minyak. Perusahaan-perusahaan tersebut akan menambah jarak tempuh dan memperpanjang waktu pelayaran kapal tanker.
“Kondisi ini mendorong tarif sewa kapal tanker, terutama Very Large Crude Carrier atau VLCC, naik signifikan,” ujar Wafi, Senin (2/3/2026).
Ia menilai emiten logistik energi domestik dapat meraih manfaat langsung dari lonjakan tarif tersebut. Selain itu, karakter saham sektor ini yang sensitif terhadap sentimen memberi peluang kenaikan lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar saat sentimen positif menguat.
Emiten Pelayaran Energi Siap Tangkap Peluang
Wafi menyebut sejumlah perusahaan pelayaran energi nasional berada pada posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut. Ia menyoroti PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL), PT Soechi Lines Tbk. (SOCI), PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HUMI), dan PT GTS Internasional Tbk. (GTSI) sebagai emiten yang berpotensi diuntungkan.
Meski demikian, Wafi meminta investor tetap menerapkan strategi selektif dan disiplin. Ia menilai volatilitas pasar masih dapat meningkat dalam jangka pendek seiring perkembangan situasi geopolitik global.
Harga Minyak Tinggi Dorong Aktivitas Migas
Selain sektor pelayaran, kenaikan harga minyak juga membuka peluang bagi sektor jasa penunjang migas. Jika gangguan distribusi mendorong harga minyak Brent bertahan di atas US$90 per barel, perusahaan hulu migas akan meningkatkan aktivitas operasional.
Dalam kondisi tersebut, PT Elnusa Tbk. (ELSA) berpotensi meraih manfaat dari meningkatnya kebutuhan jasa penunjang energi. Wafi juga memperkirakan PT Pertamina (Persero) akan meningkatkan belanja modal untuk mengoptimalkan produksi dalam negeri dan menekan ketergantungan impor.
Konflik Global Tingkatkan Volatilitas Pasar
Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Teheran pada akhir pekan lalu. Iran menyiapkan serangan balasan, sementara konflik perbatasan juga muncul antara Pakistan dan Afghanistan.
Situasi tersebut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Pelaku pasar kini menyesuaikan strategi investasi dengan mempertimbangkan dampak konflik terhadap rantai pasok global dan stabilitas ekonomi.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: DUASATUNEWS.COM
