Soeharto dan Gelar Pahlawan Nasional: Analisis Sejarah, Politik, dan Moral
- account_circle Saydul La Opua
- calendar_month Senin, 10 Nov 2025
- visibility 550
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Presiden Prabowo Subianto menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 pada 10 November 2025. Keputusan ini segera memicu perdebatan luas di ruang publik dan media nasional. Publik kembali menilai posisi Soeharto dalam sejarah Indonesia, antara prestasi pembangunan dan kontroversi kekuasaan Orde Baru.
Soeharto menjabat sebagai Presiden kedua Republik Indonesia selama 32 tahun, dari 1966 hingga 1998. Ia memimpin Indonesia pada masa konsolidasi politik pasca-1965. Di satu sisi, pemerintahannya mencatat stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, Orde Baru meninggalkan catatan pelanggaran hak asasi manusia dan praktik korupsi sistemik.
Stabilitas Politik dan Konsolidasi Kekuasaan
Setelah peristiwa 1965, Soeharto mengonsolidasikan kekuasaan negara secara ketat. Ia mengakhiri ketidakpastian politik dan membangun stabilitas nasional. Stabilitas ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menjalankan agenda pembangunan secara terpusat dan terencana.
Pemerintah Orde Baru menekan konflik politik terbuka dan membatasi oposisi. Kebijakan ini menciptakan ketertiban, tetapi juga mengorbankan kebebasan politik dan hak sipil.
Prestasi Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi
Di bidang pembangunan, Soeharto mencatat sejumlah capaian penting. Pemerintah membangun jalan, bendungan, irigasi, sekolah, dan fasilitas kesehatan di berbagai daerah. Program swasembada pangan pada 1984 membawa Indonesia mencapai kemandirian beras.
Pemerintah juga memperkuat posisi Indonesia di kawasan melalui peran aktif di ASEAN. Kebijakan ekonomi makro mendorong pertumbuhan dan menurunkan angka kemiskinan pada periode tertentu. Banyak kalangan menjadikan capaian ini sebagai dasar penghargaan terhadap jasa Soeharto.
Catatan Kelam Orde Baru
Namun, sejarah Orde Baru juga memuat peristiwa kelam. Negara mencatat dugaan pelanggaran HAM berat, seperti peristiwa Tanjung Priok 1984 dan Talangsari 1989. Aparat keamanan terlibat dalam operasi yang menewaskan warga sipil dan memicu trauma berkepanjangan.
Kasus Timor Timur menambah daftar kontroversi. Konflik bersenjata dan operasi militer berlangsung selama puluhan tahun. Ribuan warga menjadi korban dan mengalami dampak sosial yang serius.
Selain itu, pemerintah Orde Baru membatasi kebebasan pers dan menekan kelompok kritis. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme berkembang secara sistemik di lingkaran kekuasaan.
Kontroversi Gelar Pahlawan Nasional
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 dan PP Nomor 35 Tahun 2010 mengatur pemberian gelar Pahlawan Nasional. Regulasi ini menekankan jasa luar biasa, integritas moral, dan keteladanan.
Penetapan Soeharto menimbulkan perdebatan karena publik menilai standar moral tersebut belum terpenuhi sepenuhnya. Sebagian masyarakat mengapresiasi jasanya dalam pembangunan. Kelompok lain menolak karena negara belum menuntaskan pelanggaran HAM dan korupsi Orde Baru.
Implikasi Politik dan Polarisasi Publik
Keputusan ini berpotensi memicu polarisasi politik. Kelompok pendukung melihatnya sebagai pengakuan sejarah. Kelompok penentang menilai negara sedang memutihkan masa lalu yang bermasalah.
Isu ini juga berisiko memunculkan politisasi sejarah. Penghargaan terhadap tokoh masa lalu bisa berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan masa kini. Kondisi ini menimbulkan kritik dari akademisi, aktivis, dan komunitas korban.
Dimensi Moral dan Etika Publik
Dari sudut pandang moral, gelar Pahlawan Nasional seharusnya mencerminkan keadilan dan integritas. Negara perlu menimbang prestasi dan kesalahan secara seimbang. Pengabaian terhadap penderitaan korban berpotensi melukai rasa keadilan publik.
Proses penilaian idealnya melibatkan sejarawan, ahli HAM, dan masyarakat luas. Pendekatan ini dapat memperkuat legitimasi moral keputusan negara dan menjaga memori kolektif bangsa.
Seperti kata Plato, “Orang bijak memerintah bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi kebaikan seluruh rakyat.”
- Penulis: Saydul La Opua
- Editor: Darman
- Sumber: https://duasatunews.com

Pahlawan nasional yang dianugerahkan kepada Suharto sangat layak mengingat jasa-jasa beliau dalam mempertahankan ideologi pancasila di saat banyak pihak yang ingin mengganti ideologi negara tersebut.
10 Januari 2026 2:10 amBeliau juga dijuluki sebagai “Bapak Pembangunan”