Evakuasi Warga Iran Tembus 1 Juta Orang
- account_circle adrian moita
- calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
- visibility 94
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi, Bendera Iran
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (duasatunews.com) – Evakuasi warga Iran kini melampaui satu juta orang seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Ancaman operasi darat mendorong warga meninggalkan wilayah yang berpotensi terdampak konflik.
Kantor berita Mehr melaporkan perkembangan ini pada Kamis (26/3). Laporan itu menunjukkan warga bergerak untuk menghindari risiko konfrontasi militer.
Evakuasi Warga Iran Dipicu Ancaman Operasi Militer
Harian The Wall Street Journal mengungkap rencana operasi darat tersebut. Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat menerima informasi bahwa militer AS telah menyiapkan skenario dan siap menjalankannya dalam waktu dekat.
Sementara itu, media militer Iran menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan kedatangan pasukan Amerika. Mereka menyampaikan pesan itu melalui platform X sebagai peringatan terbuka.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Teheran pada 28 Februari. Serangan itu menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Aksi ini memperluas konflik dan meningkatkan risiko bentrokan lanjutan.
Di sisi lain, kondisi tersebut mempercepat evakuasi warga Iran, terutama di wilayah rawan.
Reaksi Internasional terhadap Evakuasi Warga Iran
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas pada hari pertama operasi militer. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung selama 40 hari.
Selanjutnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam tindakan tersebut. Ia menyebut peristiwa itu melanggar hukum internasional, seperti dilaporkan RIA Novosti dan dikutip Sputnik.
Dampak Global dan Risiko Kemanusiaan
Perpindahan warga dalam jumlah besar menunjukkan peningkatan risiko konflik skala luas. Kondisi ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan di kawasan.
Selain itu, konflik ini dapat mengganggu stabilitas ekonomi global dan keamanan regional. Oleh karena itu, berbagai pihak mendorong langkah de-eskalasi untuk menekan dampak yang lebih besar.
Sumber: Sputnik_OANA
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
