Saham Raksasa Perhiasan Tiba-Tiba Ambruk, Laba Bakal Jeblok 60%
- account_circle Darman
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- visibility 86
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gerai Pandora di Eropa. Saham Pandora ambruk hampir 7 persen di tengah tekanan harga perak dan melemahnya daya beli konsumen.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Saham Pandora ambruk hampir 7 persen dalam satu hari perdagangan, menandai tekanan serius pada industri perhiasan global. Kejatuhan saham produsen perhiasan asal Denmark ini mencerminkan memburuknya sentimen pasar saham global di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, sebagaimana juga terlihat pada dinamika pasar saham internasional dalam laporan sebelumnya di kanal ekonomi Pikiran Jakarta.
Penurunan tajam tersebut memperburuk kinerja saham Pandora, yang sebelumnya sempat mencatat penguatan singkat. Tekanan ini menunjukkan bahwa sektor ritel non-primer semakin rentan, seiring melemahnya daya beli masyarakat dan naiknya biaya produksi.
Saham Pandora Ambruk di Tengah Tekanan Biaya Produksi
Pada perdagangan Selasa sore waktu setempat, saham Pandora turun sekitar 6,7 persen dan mengakhiri tren penguatan dua hari sebelumnya. Sepanjang 2025, saham perusahaan sudah melemah sekitar 46 persen, sementara sejak awal 2026 kembali turun sekitar 26 persen.
Kondisi tersebut sejalan dengan tekanan yang lebih luas di pasar saham global akibat inflasi dan perlambatan ekonomi, seperti yang juga tercermin dalam analisis pergerakan pasar saham global yang terdampak tekanan inflasi.
Analis Peringatkan Dampak Harga Perak terhadap Laba Pandora
Tekanan pasar diperkuat oleh langkah analis. Jefferies menurunkan peringkat saham Pandora dari buy menjadi hold. Mereka menilai perusahaan kini terjepit oleh kombinasi harga perak yang tinggi dan konsumen yang semakin menahan belanja.
Menurut Jefferies, lonjakan harga perak masih menjadi beban utama margin keuntungan. Data harga logam mulia dari London Bullion Market Association (LBMA) menunjukkan volatilitas perak global masih tinggi, meski sempat terkoreksi dalam beberapa hari terakhir (https://www.lbma.org.uk).
Dalam proyeksinya, Jefferies memperkirakan laba Pandora berpotensi turun hingga 60 persen pada 2027 jika tekanan tersebut berlanjut. Atas dasar itu, target harga saham dipangkas menjadi 530 krone Denmark dari sebelumnya 850 krone.
Saham Pandora Ambruk, Konsumen Makin Menahan Belanja
Tekanan tidak hanya datang dari sisi bahan baku. Pandora telah menaikkan harga produknya sekitar 14 persen untuk menutup kenaikan biaya input. Namun, langkah ini justru menekan minat beli, terutama di segmen konsumen berpenghasilan rendah dan menengah.
Fenomena ini berkaitan erat dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat inflasi dan kenaikan biaya hidup, yang sebelumnya juga dibahas dalam laporan mengenai tekanan pada kelas menengah. Kelompok konsumen inti Pandora menjadi pihak yang paling terdampak, sehingga pemulihan permintaan berjalan lambat.
Pandangan serupa datang dari Citi. Sejak Januari, Citi menurunkan peringkat saham Pandora ke posisi netral. Mereka menilai visibilitas jangka pendek bisnis melemah, terutama karena sekitar 80 persen penjualan Pandora bergantung pada pasar Amerika Serikat dan Eropa yang masih diliputi volatilitas ekonomi dan potensi kejenuhan konsumsi perhiasan.
Faktor Global Ikut Menekan Sentimen Pasar
Dari sisi global, gejolak juga terjadi di pasar komoditas. Harga perak sempat mencatat penurunan harian terdalam sejak 1980 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve.
Pengumuman tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS. Informasi kebijakan moneter dan arah suku bunga AS juga menjadi perhatian investor global, sebagaimana tercantum dalam pernyataan resmi Federal Reserve (https://www.federalreserve.gov).
Dampak Lebih Luas bagi Industri
Tekanan yang dialami Pandora berpotensi menjalar ke sektor terkait. Pelemahan kinerja perusahaan dapat memengaruhi rantai pasok, tenaga kerja, serta sentimen pasar barang konsumsi non-esensial. Situasi ini juga berkaitan dengan fluktuasi harga komoditas dunia yang masih berlangsung, termasuk logam mulia dan bahan baku industri.
Dalam jangka menengah, stabilitas harga perak dan pemulihan daya beli konsumen akan menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan bisnis Pandora. Tanpa perbaikan pada dua aspek tersebut, tekanan terhadap kinerja perusahaan dan industri perhiasan global diperkirakan masih berlanjut.

Saat ini belum ada komentar