Layak Masuk Kabinet, Anton Timbang, Representasi Keadilan Pembangunan dan Masa Depan Indonesia Inklusif
- account_circle Afs
- calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
- visibility 476
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

doc : Ketua Kadin Sultra, Anton Timbang saat mendampingi presiden prabowo Subianto
Oleh: Arin Fahrul Sanjaya, S.I.Kom.
Analis Komunikasi Politik & Aktivis Muda Sultra-Jakarta
“Kita tidak sedang meminta belas kasihan kekuasaan. Kita hanya menuntut keadilan representasi.”
Sudah berpuluh tahun, narasi pembangunan Indonesia terlalu sering dikendalikan oleh suara-suara dari pusat kekuasaan. Jakarta dan lingkar kekuatan politik nasional mendominasi arah kebijakan, distribusi anggaran, penunjukan pejabat, bahkan interpretasi tentang ‘apa yang dibutuhkan oleh rakyat’—semua seolah ditentukan dari satu tempat: pusat.
Sementara itu, daerah-daerah di luar Pulau Jawa, khususnya Kawasan Timur Indonesia (KTI), meskipun kaya sumber daya alam dan budaya, tetap menjadi pemain pinggiran yang hanya menerima keputusan. Mereka tidak ikut menyusunnya. Mereka tidak menjadi bagian dari ruang strategi. Ironisnya, pembangunan yang diklaim untuk mereka, sering kali tidak menyentuh akar masalah di lapangan.
Dalam situasi ini, kehadiran figur seperti Anton Timbang bukan saja menjadi alternatif, tapi keharusan moral-politik. Ia adalah representasi dari harapan baru daerah, tokoh transisi dari dominasi pusat menuju Indonesia yang lebih adil dan seimbang. Maka jika kita berbicara tentang siapa yang layak masuk ke kabinet mendatang—nama Anton Timbang harus ada di meja.
Representasi yang Terlupakan: Ketimpangan dalam Sistem Kabinet
Secara historis, komposisi kabinet Indonesia nyaris selalu menunjukkan kecenderungan Jakarta-sentris, atau minimal Jawa-sentris. Meskipun ada beberapa menteri yang berasal dari luar Pulau Jawa, jumlahnya tidak pernah seimbang dengan luas wilayah dan kontribusi ekonomi yang diberikan oleh daerah-daerah tersebut.
Sulawesi Tenggara, misalnya. Provinsi ini menjadi salah satu lumbung sumber daya nikel dan pertambangan nasional. Tapi apakah masyarakat di sana menikmati kesejahteraan setimpal? Apakah suara mereka benar-benar didengar dalam perumusan kebijakan hilirisasi nasional?
Tentu tidak.
Ini bukan hanya soal komposisi, tapi soal keadilan struktural dan keberanian politik untuk mengubah cara pandang dalam mengelola negara.
Mengapa Anton Timbang?
Nama Anton Timbang bukanlah nama yang baru di dunia usaha. Ia adalah Ketua KADIN Sulawesi Tenggara yang dikenal memiliki jaringan luas, rekam jejak panjang dalam membina UMKM, mendorong investasi yang sehat, serta konsisten memperjuangkan pemerataan pembangunan berbasis potensi lokal.
Namun, lebih dari itu, Anton adalah simbol dari integrasi antara pengusaha daerah dan kepentingan nasional. Ia tidak hanya bicara soal ekonomi, tapi juga tentang bagaimana membangun manusia dan mentalitas berwirausaha di akar rumput. Ia hadir sebagai jembatan: antara rakyat dan kebijakan, antara daerah dan pusat.
Anton juga dikenal memiliki komitmen terhadap keberlanjutan, hal yang jarang dimiliki oleh banyak pengusaha. Dalam forum-forum nasional, ia kerap menyerukan pentingnya regulasi yang berpihak pada lingkungan dan komunitas lokal, khususnya dalam industri pertambangan dan pengelolaan sumber daya alam.
Kabinet Harus Inklusif dan Representatif
Dalam teori komunikasi politik, sebuah pemerintahan hanya akan efektif bila mampu membangun resonansi sosial, yaitu kondisi ketika rakyat merasa “terwakili” dalam setiap keputusan yang diambil. Salah satu cara paling konkret untuk mencapai itu adalah melalui komposisi kabinet yang mencerminkan keragaman geografis, budaya, dan sektor strategis.
Saat ini, kita memiliki momentum. Pemerintah ke depan, siapa pun presidennya, tidak bisa lagi membentuk kabinet hanya dengan mempertimbangkan kepentingan partai atau kelompok oligarki. Kabinet harus menjadi panggung nasional, tempat semua suara—dari kota besar hingga pulau-pulau terluar—ikut menentukan arah masa depan Indonesia.
Dan suara dari Sulawesi Tenggara, suara dari Timur Indonesia, harus ada di sana. Tidak cukup hanya mendengarnya. Suara itu harus diberi kekuasaan untuk memutuskan.
Konteks Global: Indonesia Butuh Wajah Baru
Indonesia saat ini sedang menghadapi tekanan global. Perubahan iklim, transisi energi, ketegangan geopolitik, hingga kebutuhan untuk membangun kemandirian ekonomi pasca pandemi, semuanya menuntut pemikiran segar dan aktor baru dalam sistem pemerintahan.
Anton Timbang adalah bagian dari generasi baru yang bisa membawa perspektif berbeda: bukan dari menara gading akademik, bukan dari lingkaran elite istana, tapi dari dunia nyata—dunia pelaku usaha, dunia yang bersinggungan langsung dengan masyarakat dan dinamika pasar.
Ia tahu bagaimana menjawab kebutuhan pelaku UMKM. Ia paham tantangan regulasi yang tumpang tindih. Ia memahami pentingnya investasi yang bukan sekadar angka, tetapi berdampak. Dan yang paling penting, ia hadir sebagai wajah Indonesia yang tidak berpusat di pusat.
Kesimpulan: Saatnya Kabinet Mendengar Suara dari Kendari
Sebagai seorang pemuda dari Sulawesi Tenggara, saya tidak ingin daerah saya hanya menjadi baris catatan kaki dalam dokumen pembangunan nasional. Saya ingin melihat wajah-wajah dari timur hadir dalam pengambilan keputusan penting negara.
Saya ingin kabinet Indonesia mencerminkan Indonesia yang sebenarnya bukan hanya dalam peta, tapi dalam ruang kekuasaan.
Anton Timbang bukan sekadar tokoh Sultra. Ia adalah harapan dari semua daerah yang selama ini terpinggirkan. Dan kabinet mendatang, jika ingin menjadi simbol perubahan, tidak bisa menutup mata dari figur seperti dia.
Tentang Penulis:
Arin Fahrul Sanjaya adalah analis komunikasi politik dan aktivis muda asal Sulawesi Tenggara. Ia aktif dalam advokasi kebijakan publik, isu keterwakilan daerah, dan pemberdayaan pemuda di bidang sosial-politik.

Saat ini belum ada komentar