JAKARTA, (Duasatunews.com) — Proyek gas Blok Masela memasuki fase krusial setelah pengembangnya, Inpex Masela Ltd, meminta sejumlah insentif kepada pemerintah. Perusahaan menilai dukungan kebijakan sangat penting agar pembangunan proyek LNG Abadi berjalan sesuai target.
Project Director Inpex Masela, Jarrad Blinco, menyampaikan bahwa proyek gas Blok Masela terus menunjukkan perkembangan positif. Dengan dukungan SKK Migas, perusahaan telah menyelesaikan berbagai tahapan penting, termasuk memperoleh persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Inpex menargetkan dimulainya pekerjaan lapangan setelah menyelesaikan proses kompensasi kepada masyarakat setempat. Saat ini, tim proyek masih mengerjakan tahap Front End Engineering Design (FEED). Perusahaan menargetkan penyelesaian FEED pada Juni 2026 sebagai dasar masuk ke tahap konstruksi.
Saat memasuki fase Engineering, Procurement, Construction and Installation (EPCI), Inpex menilai proyek gas Blok Masela membutuhkan fleksibilitas regulasi. Perusahaan mengajukan relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar pengadaan peralatan berjalan lebih cepat. Inpex juga meminta izin menggunakan galangan fabrikasi luar negeri untuk menekan risiko keterlambatan.
Selain itu, Inpex mendorong penyederhanaan proses impor material dan peralatan proyek. Perusahaan mengusulkan penyesuaian kebijakan master list serta cabotage. Menurut Inpex, langkah tersebut dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menjaga jadwal pembangunan.
Dari sisi pendanaan, Inpex membuka koordinasi dengan Kementerian Keuangan. Perusahaan mempertimbangkan penggunaan skema Trustee Borrowing Scheme untuk mendukung struktur pembiayaan proyek berskala besar ini.
Inpex juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam penyederhanaan perizinan. Perusahaan menilai penerimaan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan proyek gas Blok Masela.
Sebagai informasi, proyek LNG Abadi Blok Masela menyerap investasi sekitar US$21 miliar atau setara Rp352 triliun. Proyek ini menargetkan kapasitas produksi gas hingga 1.600 MMSCFD. Pemerintah berharap proyek ini memperkuat pasokan gas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.


Saat ini belum ada komentar