Cara Membangun Portofolio Investasi agar Cuan dan Minim Risiko
- account_circle adrian moita
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 139
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi alokasi portofolio investasi yang seimbang, menggambarkan pembagian aset ke dalam saham, uang tunai, emas, dan properti. Investor ditampilkan menjaga keseimbangan portofolio untuk mengelola risiko sekaligus memaksimalkan potensi keuntungan jangka panjang melalui diversifikasi aset. Nur Wayda/duasatunews.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (duasatunews.com) – Cara membangun portofolio investasi menjadi hal penting yang perlu dipahami setiap investor, terutama pemula. Seperti industri lainnya, dunia investasi memiliki bahasa dan mekanisme tersendiri. Investor menggunakan istilah portofolio investasi untuk menyebut seluruh aset investasi yang mereka miliki.
Banyak investor pemula menganggap membangun portofolio investasi sebagai hal yang rumit. Padahal, proses ini dapat disederhanakan dengan mengikuti beberapa langkah praktis. Baik investor yang ingin mengelola investasi secara aktif maupun pasif, selalu tersedia opsi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan keuangan.
Mengutip NerdWallet, Senin (20/10/2025), portofolio investasi mencakup berbagai aset, mulai dari saham, obligasi, reksa dana, aset kripto, hingga exchange-traded fund (ETF).
Di era digital, investor tidak lagi menyimpan portofolio dalam bentuk fisik. Meski demikian, membayangkan seluruh aset berada dalam satu “wadah” dapat membantu proses pengelolaan. Berikut langkah-langkah membangun portofolio investasi agar berpotensi menghasilkan keuntungan.
Langkah Awal Cara Membangun Portofolio Investasi
Langkah awal dalam cara membangun portofolio investasi adalah menentukan metode pengelolaan. Investor yang merasa kesulitan memulai dapat memanfaatkan bantuan pihak lain, seperti robo-advisor. Layanan ini menawarkan solusi berbiaya relatif rendah dengan menyesuaikan portofolio berdasarkan tujuan dan toleransi risiko investor.
Sementara itu, investor yang ingin mengelola portofolio secara mandiri juga memiliki banyak pilihan. Broker online kini menyediakan berbagai fitur pendukung yang memudahkan penyusunan portofolio saham, ETF, hingga aset kripto.
Melalui fitur tersebut, investor dapat menentukan alokasi aset dan mengatur investasi berkala sesuai rencana. Beberapa broker bahkan menyediakan fitur rebalancing sekali klik untuk membantu menjaga proporsi portofolio tetap ideal.
Memahami Risiko dalam Pengelolaan Investasi
Tahap berikutnya dalam membangun portofolio investasi adalah memahami toleransi risiko pribadi. Toleransi risiko menunjukkan sejauh mana investor mampu menerima potensi kerugian demi peluang memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi.
Selain jangka waktu pencapaian tujuan keuangan, kesiapan mental menghadapi fluktuasi pasar juga memengaruhi toleransi risiko. Investor dengan tujuan jangka panjang umumnya memiliki ruang lebih besar untuk menghadapi naik-turunnya pasar.
Setelah membuka rekening investasi, investor dapat memilih beberapa jenis aset berikut:
Saham
Saham mewakili kepemilikan di suatu perusahaan. Investor membeli saham dengan harapan nilainya meningkat, meski harga saham juga berpotensi turun. Untuk menekan risiko, banyak investor memilih reksa dana saham. Jika membeli saham individual, sebaiknya batasi alokasinya sekitar 5–10 persen dari total portofolio.
Obligasi
Obligasi memberikan pendapatan bunga tetap dari pinjaman kepada pemerintah atau perusahaan. Investor kerap menggunakan obligasi untuk menyeimbangkan portofolio karena risikonya lebih rendah dibandingkan saham.
Reksa dana
Reksa dana menawarkan diversifikasi instan dengan menggabungkan berbagai aset dalam satu produk. Dibandingkan saham individual, reksa dana cenderung memiliki risiko lebih rendah. Namun, reksa dana yang dikelola aktif biasanya mengenakan biaya lebih tinggi.
Investasi berdampak
Investor yang ingin menyelaraskan investasi dengan nilai pribadi dapat memilih investasi berdampak, seperti dana yang berfokus pada perusahaan ramah lingkungan atau yang mendorong kepemimpinan perempuan.
Strategi Mengatur Alokasi Aset dalam Portofolio Investasi
Alokasi aset merupakan bagian penting dalam cara membangun portofolio investasi. Strategi ini menentukan cara investor membagi dana ke berbagai jenis investasi dalam portofolio. Toleransi risiko dan usia sangat memengaruhi keputusan alokasi aset.
Banyak investor menggunakan aturan praktis dengan mengurangkan usia dari angka 100 atau 110 untuk menentukan porsi saham. Investor berusia 30 tahun, misalnya, dapat mengalokasikan sekitar 70–80 persen dana ke saham. Seiring bertambahnya usia, investor biasanya meningkatkan porsi obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.
Menjaga Keseimbangan Investasi dari Waktu ke Waktu
Perubahan nilai aset dapat menggeser komposisi portofolio investasi dari target awal. Oleh karena itu, investor perlu melakukan penyesuaian agar proporsi aset tetap sesuai rencana.
Robo-advisor umumnya melakukan penyesuaian ini secara otomatis. Sementara itu, investor mandiri dapat melakukannya setiap enam atau 12 bulan, atau ketika pergeseran alokasi aset melebihi 5 persen.
Sebagai contoh, ketika porsi saham naik dari 60 persen menjadi 65 persen, investor dapat menjual sebagian saham atau menambah investasi di aset lain agar komposisi portofolio kembali seimbang.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: duasatunews.com
