Krisis Energi Global Terparah Dipicu Konflik Timur Tengah
- account_circle Reski
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto:Ilustrasi krisis energi global menunjukkan aktivitas tanker di Selat Hormuz, lonjakan harga minyak, serta dampak konflik Timur Tengah terhadap pasokan energi dunia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
jakarta,(duasatunews.com) — Dunia menghadapi krisis energi paling serius dalam sejarah modern akibat konflik di Timur Tengah. Komisaris Energi dan Perumahan Uni Eropa, Dan Jorgensen, menyampaikan peringatan itu pada Selasa (5/5).
Dalam konferensi pers di Brussels, Belgia, Jorgensen menilai krisis ini menguji ketahanan ekonomi global, stabilitas sosial, serta kerja sama antarnegara. Selain itu, ia menegaskan tekanan tidak hanya melanda negara berkembang, tetapi juga negara maju yang bergantung pada impor energi.
Ia menjelaskan negara-negara Uni Eropa menggelontorkan sekitar 30 miliar euro (Rp611 triliun) untuk impor bahan bakar minyak sejak konflik dimulai. Namun, belanja besar itu tidak meningkatkan pasokan energi. Akibatnya, harga energi global naik dan beban fiskal meningkat. Oleh karena itu, banyak negara mulai menyesuaikan kebijakan energi mereka.
Selanjutnya, Jorgensen menyoroti gangguan rantai pasok sebagai faktor utama yang memperparah krisis. Ia menilai ketergantungan pada jalur distribusi tertentu membuat sistem energi global semakin rentan. Karena itu, setiap gangguan kecil dapat memicu dampak besar di pasar internasional.
Situasi memburuk setelah Angkatan Laut Amerika Serikat memblokade lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran pada 13 April di kawasan Selat Hormuz. Langkah ini langsung mengganggu distribusi energi global.
Selat Hormuz menyalurkan sekitar 20 persen minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) dunia. Oleh sebab itu, gangguan di jalur ini langsung menekan pasokan dan mendorong kenaikan harga energi di berbagai kawasan.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat mengizinkan kapal non-Iran melintas di Selat Hormuz. Namun, mereka melarang kapal membayar pungutan kepada Teheran. Kebijakan ini bertujuan menjaga arus perdagangan tetap berjalan sekaligus menekan pengaruh Iran.
Ke depan, Jorgensen menegaskan Uni Eropa akan mempercepat diversifikasi sumber energi. Selain itu, UE akan meningkatkan investasi pada energi terbarukan. Dengan demikian, kawasan tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada wilayah konflik dan memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
- Penulis: Reski
- Editor: Nur Wayda

Saat ini belum ada komentar