Mendagri Inflasi Provinsi Terdampak Bencana Mulai Terkendali
- account_circle adrian moita
- calendar_month Senin, 6 Apr 2026
- visibility 66
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta (duasatunews.com) – Inflasi provinsi terdampak bencana mulai menunjukkan tren perbaikan seiring pulihnya distribusi barang dan jasa di sejumlah wilayah. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyatakan kondisi ini menandakan pemulihan ekonomi berjalan efektif pascabencana.
Tito menegaskan bahwa normalisasi sarana dan prasarana sosial serta ekonomi berdampak langsung terhadap ketersediaan pasokan dan pengendalian harga bahan pokok. Ia menyebut kelancaran distribusi sebagai faktor utama dalam menekan inflasi di wilayah terdampak bencana.
“Artinya, apa yang dikerjakan selama ini untuk menormalisasi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dalam mengendalikan harga barang dan jasa sudah cukup baik, karena banyak suplai sudah masuk,” ujarnya dalam rapat koordinasi di Jakarta, Senin.
Perkembangan Inflasi Provinsi Terdampak Bencana di Tiga Wilayah
Di Aceh dan Sumatera Barat, inflasi bulanan masing-masing tercatat sebesar 0,04 persen. Sementara itu, Sumatera Utara mengalami deflasi sebesar 0,13 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi harga mulai terkendali setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat gangguan distribusi, seperti akses jalan terputus, keterlambatan logistik, hingga terbatasnya pasokan bahan pokok di sejumlah daerah terdampak.
Distribusi Pulih Tekan Inflasi Wilayah Terdampak Bencana
Pulihnya jalur distribusi logistik menjadi faktor penting dalam menurunkan tekanan harga. Kini, barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula mulai kembali tersedia secara merata di pasar tradisional maupun modern.
Kondisi ini turut memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat. Aktivitas ekonomi perlahan kembali normal, terutama di sektor perdagangan dan transportasi yang sebelumnya terdampak cukup signifikan akibat bencana.
Pengendalian Inflasi Daerah Terdampak Bencana Lebih Efektif Secara Bulanan
Ia juga menekankan pentingnya menjaga momentum dengan terus memantau komponen inflasi serta memperkuat koordinasi lintas sektor, baik antara pemerintah pusat, daerah, maupun pelaku usaha.
Menurut Tito, inflasi bulanan lebih mencerminkan kondisi riil dibandingkan inflasi tahunan (year on year), sehingga lebih relevan digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pengendalian harga di lapangan.
“Data inflasi tahunan baik untuk pegangan nasional dan internasional. Tapi untuk pengendalian harga, inflasi bulanan lebih tepat,” jelasnya.
Tren Inflasi Nasional dan Dampaknya pada Daerah Terdampak
Secara nasional, inflasi menunjukkan tren penurunan dari 4,76 persen menjadi 3,48 persen. Sementara itu, inflasi bulanan juga melandai dari 0,68 persen menjadi 0,41 persen.
Penurunan ini dipengaruhi oleh normalisasi tarif listrik serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur panjang dan hari raya. Sektor makanan, minuman, dan transportasi menjadi penyumbang utama pergerakan inflasi nasional.
Kondisi tersebut ikut memperkuat stabilitas harga di berbagai daerah, termasuk wilayah yang sebelumnya terdampak bencana, sehingga proses pemulihan ekonomi dapat berjalan lebih cepat dan merata.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
