Negosiasi Nuklir Iran: Teheran Tolak Pengayaan Nol
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 214
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Istanbul, (duasatunews.com) – negosiasi nuklir Iran kembali mencuat di tengah meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran siap berunding dan mencapai kesepakatan, tetapi menolak tuntutan pengayaan uranium nol.
Sikap Teheran dalam Negosiasi Nuklir Iran
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Sabtu, Araghchi menyebut isu nuklir sebagai persoalan hak dan kedaulatan nasional. Menurutnya, pengayaan uranium merupakan hak yang dijamin dan tidak dapat dinegosiasikan untuk dihapuskan.
Ia menilai jalur diplomasi sebagai satu-satunya cara menyelesaikan persoalan ini. Karena itu, Araghchi menyambut kembalinya Amerika Serikat ke meja perundingan sebagai langkah awal yang positif.
Dialog Iran–AS dalam Perundingan Nuklir
Meski demikian, Araghchi mengakui bahwa Iran dan Amerika Serikat membutuhkan waktu panjang untuk membangun kembali kepercayaan. Saat ini, kedua pihak masih menjalani dialog secara tidak langsung dan membatasi pembahasan pada isu nuklir saja.
Ia juga menegaskan bahwa Iran menempatkan program rudal dalam ranah pertahanan nasional. Oleh sebab itu, Teheran tidak akan memasukkan isu tersebut ke dalam agenda perundingan, baik sekarang maupun di masa mendatang.
Kesepakatan dalam Pembicaraan Nuklir Iran dan Garis Merah Teheran
Di sisi lain, Iran menyatakan keterbukaan untuk membangun kepercayaan dan mencapai kesepakatan yang adil serta saling menguntungkan. Araghchi menyebut kesepakatan yang mampu meyakinkan semua pihak sebagai tujuan realistis, selama pihak lain menghormati batas yang ditetapkan Teheran.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa tuntutan pengayaan uranium nol tidak pernah masuk dalam agenda negosiasi nuklir Iran.
Tekanan Militer dan Arah Negosiasi Nuklir
Araghchi menilai tekanan militer tidak akan mengubah posisi Teheran. Ia menyebut ancaman justru memperkeras sikap Iran dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
Keamanan Kawasan dan Dampak Negosiasi Nuklir Iran
Terkait keamanan kawasan, Araghchi menepis anggapan bahwa Iran mengancam negara-negara tetangga. Ia menegaskan bahwa Iran tidak pernah menargetkan negara lain di kawasan.
“Kami tidak menyerang negara tetangga. Kami menargetkan pangkalan AS di kawasan. Perbedaannya sangat besar,” tegasnya.
Oman dan Masa Depan Dialog Nuklir Iran–AS
Araghchi juga mengakui bahwa risiko konflik terbuka selalu ada. Meski begitu, Iran tetap mendorong diplomasi dan berupaya mencegah perang, sambil menyiapkan diri menghadapi skenario terburuk.
Hingga kini, kedua pihak belum menetapkan tanggal pasti pertemuan lanjutan. Namun, Muscat, Oman, kembali mencuat sebagai lokasi potensial. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyebut pembicaraan terakhir berlangsung sangat serius dan membuka ruang kemajuan.
Di tengah sejarah panjang ketidakpercayaan dan bayang-bayang ancaman militer, diplomasi Iran–Amerika Serikat kembali bergerak perlahan, hati-hati, dan penuh perhitungan.
