Program Padat Karya Sawah Pulihkan Lahan Bencana
- account_circle adrian moita
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
- visibility 193
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau program rehabilitasi sawah terdampak bencana di wilayah Sumatera. Pemerintah menerapkan skema padat karya dengan melibatkan langsung petani pemilik lahan, sekaligus memberikan penghasilan selama proses pemulihan untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (duasatunews.com) — Program Padat Karya Sawah menjadi langkah pemerintah untuk memulihkan lahan pertanian terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemerintah menjalankan kebijakan ini guna menjaga produksi pangan nasional sekaligus memastikan petani tetap memperoleh pendapatan selama masa pemulihan.
Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah menggaji petani yang memperbaiki sawah milik mereka sendiri. Pemerintah pusat menanggung biaya pengolahan tanah, perbaikan jaringan irigasi, serta penyediaan benih dan pupuk.
Menurut Mentan, pendekatan padat karya mempercepat rehabilitasi lahan sekaligus menjaga daya beli petani. Dengan sistem ini, pemilik lahan terlibat langsung dalam proses pemulihan dan menerima upah harian sesuai progres pekerjaan.
Target Program Padat Karya Sawah di Tiga Provinsi
Kementerian Pertanian mencatat total kerusakan lahan sawah akibat bencana mencapai 98.002 hektare. Aceh mencatat 54.233 hektare, Sumatera Utara 37.318 hektare, dan Sumatera Barat 6.451 hektare.
Pemerintah memprioritaskan lahan kategori ringan dan sedang agar petani dapat kembali memasuki musim tanam berikutnya. Di Aceh, pemerintah menangani sekitar 10.000 hektare pada tahap awal dan menyerap sekitar 200.000 hari orang kerja (HOK).
Selain perbaikan fisik lahan, kementerian juga menyiapkan pendampingan teknis bagi petani. Penyuluh pertanian lapangan membantu memastikan pengolahan tanah, pengairan, dan pemilihan benih sesuai standar budidaya. Langkah ini penting agar hasil panen setelah rehabilitasi tetap optimal.
Pemulihan Produksi dan Ekonomi Daerah
Kementerian menargetkan penyelesaian lahan ringan dan sedang dalam waktu maksimal tiga bulan. Setelah tahap tersebut rampung, pemerintah melanjutkan penanganan pada kategori kerusakan berat secara bertahap.
Program ini tidak hanya mempercepat rehabilitasi sawah, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal. Petani menerima pendapatan harian, sementara pelaku usaha penyedia benih, pupuk, alat pertanian, dan jasa transportasi ikut merasakan dampaknya.
Pemerintah daerah turut mengawasi pelaksanaan di lapangan agar anggaran tersalurkan tepat sasaran. Koordinasi antara pusat dan daerah menjadi kunci agar proses pemulihan berjalan efektif dan transparan.
Melalui Program Padat Karya Sawah, pemerintah berupaya menjaga stabilitas produksi beras nasional, menekan potensi kehilangan musim tanam, serta memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan bencana alam dan perubahan iklim.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: duasatunews.com
