Serangan Drone RAF Siprus oleh Iran Picu Ketegangan Global
- account_circle adrian moita
- calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
- visibility 64
- comment 0 komentar
- print Cetak

Serangan udara.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (duasatunews.com) – Serangan drone menargetkan markas Angkatan Udara Inggris di Siprus pada Senin (2/3/2026). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Akibatnya, ketegangan di kawasan langsung meningkat.
Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, segera memberi pernyataan resmi. Tak lama kemudian, ia memastikan aparat keamanan nasional bersiaga penuh. Selain itu, ia menegaskan bahwa Siprus tidak ikut dalam operasi militer mana pun.
Christodoulides menyebut drone tersebut berasal dari Iran. Namun hingga kini, aparat belum mengetahui titik peluncurannya. Karena itu, otoritas Siprus terus berkoordinasi dengan pihak Inggris untuk menilai dampak serangan.
Konflik Iran dan Inggris Makin Memanas
Serangan Drone RAF Siprus oleh Iran terjadi saat konflik Iran dan Amerika Serikat memanas. Sebelumnya, Inggris memberi izin kepada AS untuk memakai pangkalan militernya. Meski begitu, London menyatakan izin itu hanya untuk tujuan pertahanan.
Inggris tidak mengirim pasukan tempur. Sebaliknya, pemerintah hanya memberi dukungan terbatas. Langkah tersebut kemudian memicu reaksi keras dari Iran.
Iran Targetkan Aset Militer AS
Di sisi lain, Iran memperluas serangan ke wilayah yang memiliki pangkalan militer AS. Serangan itu mencakup Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan mereka menargetkan aset militer AS sebagai balasan. Menurut IRGC, operasi akan terus berjalan. Dengan demikian, Iran menunjukkan komitmen untuk melanjutkan tekanan militer.
Dampak Regional dan Respons NATO
Selain eskalasi di Teluk, situasi juga memengaruhi Eropa. Inggris, Prancis, dan Jerman mengecam langkah Iran. Oleh karena itu, ketiga negara tersebut meminta Teheran segera menghentikan serangan.
Mereka juga menyiapkan langkah defensif jika situasi memburuk. Jika konflik terus meluas, kawasan Mediterania Timur dapat menghadapi risiko keamanan yang lebih besar. Pada akhirnya, stabilitas regional sangat bergantung pada upaya de-eskalasi dari semua pihak.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: DUASATUNEWS.COM
