Purbaya Serukan Bersih-Bersih Saham Gorengan, Sejarah Ingatkan Dampak Fatal Manipulasi Pasar
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 163
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Gedung Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA,Duasatunews.com — Pembersihan saham gorengan kembali menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam dan memicu trading halt. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk menjaga stabilitas pasar modal dan melindungi investor dari risiko spekulasi berlebihan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan tersebut bersifat sementara. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan stabil.
Namun, Purbaya mengingatkan bahwa penguatan pasar saham membutuhkan langkah struktural. Ia mendorong otoritas bursa membersihkan saham-saham gorengan yang tidak ditopang kinerja bisnis.
Menurutnya, saham berfundamental kuat relatif lebih tahan gejolak. Sebaliknya, saham spekulatif rawan memicu distorsi harga dan kerugian investor ritel.
Praktik Lama yang Terus Berulang
Manipulasi harga saham bukan fenomena baru. Sejarah mencatat praktik serupa telah terjadi ratusan tahun lalu dan menimbulkan kerugian besar.
Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Inggris pada 1720 melalui South Sea Company. Pemerintah Inggris saat itu menghadapi beban utang besar akibat perang panjang.
Untuk mengatasinya, pemerintah memberi mandat kepada perusahaan tersebut untuk mengelola utang negara. Sebagai imbalan, perusahaan memperoleh janji monopoli perdagangan di Amerika Selatan.
Janji itu memicu optimisme publik. Banyak orang membeli saham karena percaya perusahaan akan meraih keuntungan besar.
Euforia Tanpa Dasar Bisnis
Harga saham South Sea Company melonjak tajam dalam waktu singkat. Kenaikan terjadi bukan karena laba, melainkan karena spekulasi.
Manajemen perusahaan tidak mengungkap fakta penting. Wilayah Amerika Selatan berada di bawah kekuasaan Spanyol, bukan Inggris. Ruang bisnis perusahaan sangat terbatas.
Meski begitu, propaganda terus berjalan. Harga saham naik lebih dari sepuluh kali lipat. Publik pun ikut arus karena takut tertinggal.
Saat para petinggi mulai melepas saham mereka, kepercayaan pasar runtuh. Harga saham jatuh drastis dan memicu kepanikan luas.
Ribuan Bangkrut, Ilmuwan Ternama Ikut Jadi Korban
Kejatuhan tersebut menghancurkan kekayaan ribuan orang. Bangsawan, pengusaha, dan masyarakat umum kehilangan tabungan mereka dalam waktu singkat.
Salah satu korban paling terkenal adalah Isaac Newton. Ia sempat meraih untung, tetapi kembali membeli saham saat harga sudah terlalu tinggi. Keputusan itu membuatnya merugi besar.
Pengalaman tersebut melahirkan kutipan legendaris Newton tentang ketidakmampuannya menghitung kegilaan manusia.
Pelajaran bagi Pasar Modal Saat Ini
Penyelidikan pemerintah Inggris kemudian membongkar praktik suap dan konflik kepentingan. Skandal itu merusak kepercayaan publik terhadap negara dan pasar keuangan.
Sejarah tersebut menjadi peringatan bagi pasar modern. Tanpa pengawasan ketat, saham spekulatif dapat menciptakan ilusi pertumbuhan semu.
Seruan Purbaya untuk membersihkan saham gorengan dinilai relevan. Langkah itu penting untuk melindungi investor dan menjaga kredibilitas pasar modal dalam jangka panjang.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar