Demo Biaya Hidup Guncang Teheran, Puluhan Orang Tewas
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 237
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ribuan warga turun ke jalan dalam aksi demonstrasi di Teheran, Iran, memprotes krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang rial, Selasa (6/1/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, duasatunews.com — Demonstrasi Teheran Iran kembali memanas pada Selasa (6/1/2026). Ribuan warga turun ke jalan memprotes krisis ekonomi, lonjakan harga kebutuhan pokok, serta anjloknya nilai tukar mata uang rial yang semakin menekan kehidupan masyarakat.
Lembaga swadaya masyarakat Iran Human Rights (IHR) mencatat aparat keamanan menewaskan sedikitnya 27 demonstran. Dari jumlah itu, lima korban merupakan anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Laporan IHR: https://iranhr.net
Bentrokan Pecah di Ibu Kota Iran
Ketegangan meningkat ketika aparat keamanan menyerbu sebuah rumah sakit di kawasan Hasanabad, Teheran. Aparat menembakkan gas air mata ke dalam area rumah sakit, meski petugas medis masih menangani warga sipil yang terluka.
Kelompok HAM internasional mengecam tindakan tersebut karena aparat melanggar prinsip perlindungan fasilitas medis dalam situasi konflik sipil.
Di sisi lain, Kepolisian Iran mengklaim bentrokan turut menewaskan sejumlah anggota aparat. Kantor berita Agence France-Presse (AFP) mengutip pernyataan resmi otoritas Iran tersebut.
Sumber AFP: https://www.afp.com
Krisis Ekonomi Dorong Aksi Massa
Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025. Ribuan pedagang menutup toko-toko di pasar utama Teheran yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional.
Para demonstran menuntut pemerintah segera mengendalikan harga pangan, menciptakan lapangan kerja, serta menghentikan pelemahan nilai tukar rial terhadap mata uang asing. Pengamat menilai demonstrasi Teheran Iran kali ini mencerminkan akumulasi kekecewaan publik terhadap kondisi ekonomi yang memburuk.
Slogan Politik Warnai Aksi Jalanan
Selain tuntutan ekonomi, massa meneriakkan slogan bernuansa politik seperti “Pahlavi akan kembali” dan seruan agar Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mundur dari jabatannya.
Pengamat menilai eskalasi slogan tersebut menunjukkan pergeseran arah gerakan. Massa kini menyasar sistem politik dan kepemimpinan nasional, bukan sekadar kebijakan ekonomi.
Aksi Terbesar Sejak Kasus Mahsa Amini
Sejumlah analis menyebut aksi kali ini sebagai yang terbesar sejak gelombang protes 2022–2023. Kematian Mahsa Amini saat itu memicu demonstrasi nasional di berbagai kota.
Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan langkah konkret untuk meredam ketegangan. Aparat keamanan menjaga berbagai titik strategis ibu kota, sementara otoritas membatasi aktivitas publik di sejumlah kawasan. Situasi di Teheran masih tetap rawan.
