Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Angka, Bukan Manusia

Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Angka, Bukan Manusia

  • account_circle Adrian Moita
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 502
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, duasatunews.com – Pendidikan hanya mengejar angka sebagai wajah sistem pendidikan berorientasi nilai kini semakin dominan, ketika sekolah dan kampus sibuk mengejar skor, peringkat, serta target administratif, sementara pembentukan manusia tersingkir dari tujuan utama pendidikan.

Pendidikan terlihat bergerak cepat, tetapi arahnya kabur. Sekolah mengejar target kelulusan, kampus menumpuk laporan, dan ruang kelas dipenuhi angka. Nilai, akreditasi, serta peringkat menguasai perhatian. Dalam situasi seperti ini, pendidikan sering melupakan perannya sebagai ruang pembentukan karakter, nalar kritis, dan empati sosial.

Sejak usia dini, sistem pendidikan mendorong anak mengejar nilai tinggi. Banyak sekolah mengukur keberhasilan dari hasil ujian, bukan dari proses belajar. Guru menyesuaikan metode mengajar demi memenuhi indikator evaluasi. Orang tua pun ikut cemas ketika anak tidak memenuhi standar angka yang berlaku. Akibatnya, belajar bergeser menjadi rutinitas menghafal dan menjawab soal, bukan proses memahami dan bertumbuh.

Pendidikan Hanya Mengejar Angka di Ruang Kelas

Kondisi pendidikan hanya mengejar angka ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sistem pendidikan berorientasi nilai membentuk pola pikir yang menempatkan skor sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai tinggi dianggap prestasi, sementara kegagalan dipersempit menjadi angka rendah.

Padahal, proses belajar mencakup kesalahan, pencarian, dan keberanian mencoba. Banyak siswa mencatat prestasi akademik, tetapi ragu menyampaikan pendapat. Sebagian lulusan memegang ijazah, namun kesulitan menghadapi persoalan nyata. Tidak sedikit mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu, tetapi minim empati dan daya kritis. Sistem mencatat capaian, tetapi gagal membentuk kepekaan.

Sistem Pendidikan Berorientasi Nilai dan Krisis Kemanusiaan

Pendidikan juga kerap mengabaikan keragaman potensi. Anak yang unggul dalam kreativitas, kepemimpinan, atau keterampilan praktis sering tersisih karena tidak sesuai dengan ukuran seragam. Sistem penilaian menutup ruang bagi kecerdasan yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam angka.

Guru dan dosen memahami persoalan ini, tetapi sistem membatasi ruang gerak mereka. Administrasi menyita waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk mendampingi peserta didik. Laporan dan indikator kinerja sering mengalahkan kebutuhan pedagogis. Di kampus, mahasiswa memilih jalur aman demi IPK, bukan jalur kritis demi pemahaman. Diskusi kehilangan daya dorong intelektual, sementara penelitian berubah menjadi kewajiban administratif.

Ketika Angka Menggeser Makna Pendidikan

Dampak dari kondisi ini terlihat jelas dalam kehidupan sosial. Kita menyaksikan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara etika. Kita menjumpai individu berpendidikan tinggi, namun miskin empati dan toleransi. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari sistem yang terlalu lama mengagungkan angka.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar, tetapi juga manusia yang adil, kritis, dan peduli. Tanpa dimensi kemanusiaan, pendidikan hanya akan melahirkan kemajuan semu.

Mengembalikan Pendidikan dari Angka ke Manusia

Pendidikan perlu kembali menempatkan manusia sebagai pusat proses belajar. Nilai tetap berperan penting, tetapi harus berfungsi sebagai alat evaluasi, bukan tujuan utama. Sekolah dan kampus perlu membuka ruang dialog, berpikir kritis, kolaborasi, serta pembelajaran kontekstual.

Orang tua perlu memandang keberhasilan anak secara lebih utuh. Pendidik membutuhkan kepercayaan untuk mendidik, bukan sekadar memenuhi target administratif. Negara harus berani mengevaluasi pendidikan dengan ukuran yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang memperoleh angka tertinggi. Pendidikan menyangkut manusia seperti apa yang lahir dari proses belajar itu. Jika pendidikan terus mengejar angka, kemajuan hanya tampak di atas kertas. Namun ketika pendidikan memihak manusia, masa depan akan tumbuh dengan makna.

Oleh: Ocit

Adrian Moita

Penulis

Update, Akurat & Terpercaya

Rekomendasi Untuk Anda

  • “PLN catat pendapatan 2025 sebesar Rp582,68 triliun”

    PLN Raup Pendapatan Rp582,68 Triliun pada 2025, Penjualan Listrik Nasional Meningkat

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Reski
    • visibility 211
    • 1Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com) — PLN catat pendapatan 2025 sebesar Rp582,68 triliun sepanjang tahun 2025. Nilai itu naik 6,84 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp545,38 triliun. Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengatakan pertumbuhan tersebut muncul di tengah tekanan ekonomi global dan tantangan bencana alam selama 2025. Menurut Darmawan, pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan energi nasional dengan […]

  • serangan militer AS Venezuela mengguncang Caracas

    Venezuela Membara: Serangan Militer AS Guncang Caracas, Klaim Penangkapan Maduro Picu Krisis Global

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Adrian moita
    • visibility 592
    • 0Komentar

    JAKARTA ,Dusatunews.com – Ketegangan geopolitik dunia kembali memuncak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer langsung ke wilayah Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Serangan tersebut mengguncang ibu kota Caracas, memicu kepanikan massal, dan memancing reaksi keras komunitas internasional. Warga dan sumber lapangan melaporkan sedikitnya tujuh ledakan beruntun di sejumlah titik strategis Caracas sekitar pukul […]

  • Seskab Teddy dan Menaker cek program Magang Nasional

    Seskab Teddy dan Menaker cek program Magang Nasional

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com – Program Magang Nasional menjadi fokus kunjungan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat meninjau langsung pelaksanaannya di PT Paragon, Jakarta. Kunjungan tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja muda agar siap bersaing di dunia kerja. Saat melakukan peninjauan, Sekretaris Kabinet dan Menteri Ketenagakerjaan berdialog dengan peserta magang serta […]

  • Gratifikasi jet pribadi Menag dibahas KPK di Gedung KPK Jakarta

    Gratifikasi Jet Pribadi Menag, KPK Pastikan Bebas Pidana

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 469
    • 0Komentar

    JAKARTA, (duasatunews.com) – Gratifikasi jet pribadi Menag menjadi sorotan publik setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan Nasaruddin Umar bebas dari sanksi pidana. KPK menegaskan Menteri Agama telah memenuhi kewajiban hukum dengan melaporkan dugaan gratifikasi sesuai batas waktu undang-undang. KPK Tegaskan Pelaporan Tepat Waktu Direktur Gratifikasi dan Pelayanan Publik KPK Arif Waluyo menjelaskan Menag menyampaikan laporan […]

  • Gempa Area 52 Nevada terekam dalam peta aktivitas seismik USGS

    Gempa Area 52 Nevada Guncang Kompleks Militer AS

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 373
    • 0Komentar

    NEVADA, (duasatunews.com) – Gempa Area 52 Nevada mengguncang wilayah dekat fasilitas militer Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas seismik ini terjadi di sekitar kawasan pengujian militer yang selama puluhan tahun menjadi lokasi penelitian dan uji coba strategis. Data dari United States Geological Survey (USGS) menunjukkan peningkatan aktivitas gempa di wilayah tersebut. Dalam 24 jam […]

  • Sidang praperadilan Gus Yaqut di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

    Kubu Yaqut Sebut Penetapan Tersangka Tanpa Kerugian Negara Seperti Pembunuhan Tanpa Korban

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 374
    • 1Komentar

    JAKARTA, (Duasatunews.com) – Tim kuasa hukum mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menolak seluruh jawaban Komisi Pemberantasan Korupsi dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026). Kuasa hukum Yaqut, Mellisa Anggraini, menilai KPK terlalu cepat menetapkan kliennya sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi kuota haji. Ia menyebut penyidik KPK belum menghitung kerugian negara […]

expand_less