Penyitaan Kapal Tanker Selat Hormuz Picu Ketegangan Iran–AS
- account_circle adrian moita
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi,Rudal militer Iran diluncurkan dalam sebuah uji coba pertahanan, dengan latar bendera nasional Iran, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, duasatunews.com — Penyitaan kapal tanker oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk Persia setelah pasukan Iran menyita dua kapal tanker minyak asing di Selat Hormuz pada Kamis (5/2/2026). Insiden ini terjadi beberapa jam sebelum Amerika Serikat dan Iran menjadwalkan perundingan tingkat tinggi di Oman pada Jumat (6/2/2026).
IRGC mencegat kedua kapal tersebut di perairan dekat Pulau Farsi. Media Amerika Serikat, Fox News, melaporkan informasi itu berdasarkan pernyataan otoritas Iran.
Iran menuding kapal-kapal tersebut terlibat dalam jaringan penyelundupan bahan bakar terorganisasi. Aparat Iran memantau jaringan itu selama beberapa bulan terakhir.
Petugas menduga kedua kapal membawa sekitar satu juta liter bahan bakar ilegal. Selain itu, otoritas Iran menahan 15 awak kapal berkewarganegaraan asing dan menyerahkan mereka kepada aparat penegak hukum.
Pemerintah Iran menyebut tindakan ini sebagai pukulan besar terhadap perdagangan bahan bakar ilegal di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut menyalurkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Hingga kini, Iran belum mengungkap identitas kapal maupun pelabuhan tujuan.
Penyitaan Kapal Tanker Picu Ancaman Pejabat Iran
(SATU-SATUNYA subjudul dengan frasa kunci fokus)
Di tengah ketegangan tersebut, mantan menteri sekaligus eks kepala penyiaran negara Iran, Ezzatollah Zarghami, melontarkan pernyataan keras kepada militer Amerika Serikat.
Zarghami memperingatkan bahwa Selat Hormuz dapat berubah menjadi medan tempur mematikan bagi AS.
“Saya yakin Selat Hormuz akan menjadi tempat pembantaian dan neraka bagi Amerika Serikat,” kata Zarghami pada Kamis.
Ia juga menegaskan klaim historis Iran atas Selat Hormuz. Menurutnya, Iran akan menunjukkan bahwa wilayah tersebut bukan ruang bebas bagi kekuatan asing.
“Orang Amerika hanya memikirkan bagaimana memindahkan kapal mereka dari satu tempat ke tempat lain,” ujarnya.
Amerika Serikat Tetap Dorong Jalur Diplomasi
Meski ketegangan meningkat, Amerika Serikat dan Iran tetap melanjutkan rencana pertemuan di Oman. Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan tiba di Oman pada Jumat.
Keduanya sebelumnya menyelesaikan pembicaraan di Abu Dhabi yang membahas isu Rusia dan Ukraina.
Gedung Putih menegaskan komitmen Washington pada jalur dialog. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan diplomasi tetap menjadi pilihan utama pemerintahan Presiden Donald Trump.
“Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama,” ujar Leavitt pada Kamis waktu setempat.
Pengamat menilai pertemuan di Oman sangat penting untuk meredam eskalasi dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
