Perundingan Nuklir AS Iran Dinilai Sulit Ditebak
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- visibility 202
- comment 0 komentar
- print Cetak

ilustrasi gambar bendera iran dan amerika
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, duasatunews.com – Seorang sumber Iran menilai hasil perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sulit diprediksi. Ia menyampaikan penilaian tersebut kepada RIA Novosti, Jumat.
Menurut sumber itu, situasi politik yang kompleks serta sikap Washington memicu ketidakpastian dialog. Ia menilai para perunding belum membangun proses negosiasi di atas fondasi kepercayaan yang kuat. Akibatnya, pembahasan teknis sering tersendat oleh persoalan politik yang lebih luas.
“Kurangnya kepercayaan terhadap AS menjadi tantangan utama, terutama setelah AS dan Israel melakukan langkah militer agresif dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat,” kata sumber tersebut.
Ia menambahkan bahwa tindakan itu memperlebar jurang ketidakpercayaan antara kedua pihak. Karena itu, Iran kini memilih bersikap lebih berhati-hati dalam setiap tahapan dialog dengan AS.
Perundingan terbaru terkait isu nuklir akan berlangsung di Oman pada Jumat. Pertemuan ini mempertemukan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Oman kembali mengambil peran sebagai mediator untuk menjaga komunikasi tetap terbuka.
Ketegangan Politik Membayangi Dialog
Pada Januari lalu, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait Iran. Ia menyebut sebuah “armada besar” bergerak menuju kawasan sekitar Iran. Trump juga mendorong Teheran untuk bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang adil serta setara, termasuk komitmen meninggalkan senjata nuklir.
Selain itu, Trump menyampaikan peringatan lanjutan. Ia menegaskan bahwa AS akan melancarkan serangan yang “jauh lebih buruk” jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan.
Prospek Perundingan ke Depan
Di tengah tensi politik dan militer yang masih tinggi, banyak pengamat memperkirakan perundingan nuklir AS–Iran akan berlangsung alot. Mereka menilai isu kepercayaan, sanksi ekonomi, dan jaminan keamanan regional masih menjadi hambatan utama.
Meski demikian, para analis tetap menilai dialog sebagai jalur penting. Diplomasi memberi ruang bagi kedua pihak untuk menahan eskalasi dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.
