New START di Ujung Masa Berlaku, Stabilitas Nuklir Global Dipertaruhkan
- account_circle Darman
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- visibility 170
- comment 1 komentar
- print Cetak

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dalam konferensi pers bersama.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com | Ketidak pastian masa depan New START nuklir kembali memicu kekhawatiran dunia. Jika perjanjian ini benar-benar berakhir tanpa pengaturan lanjutan, Amerika Serikat dan Rusia tidak lagi terikat batas hukum dalam mengelola senjata nuklir strategis.
Situasi tersebut berisiko memicu perlombaan senjata baru. Risiko ini meningkat di tengah konflik Ukraina dan memburuknya stabilitas keamanan global yang juga menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
https://www.un.org/disarmament/wmd/nuclear/
Perjanjian Pengendalian Senjata Nuklir Terakhir
New START nuklir merupakan satu-satunya perjanjian aktif yang membatasi jumlah hulu ledak, rudal, dan peluncur strategis Amerika Serikat dan Rusia. Kesepakatan ini juga mengatur mekanisme verifikasi untuk mencegah salah tafsir militer.
Tanpa perjanjian pengendalian senjata nuklir, transparansi antara kedua negara akan menurun drastis. Analisis mengenai peran New START selama ini juga banyak dibahas oleh Arms Control Association
https://www.armscontrol.org/factsheets/newstart
Negosiasi AS–Rusia Selamatkan New START Nuklir
Amerika Serikat dan Rusia menggelar pembicaraan intensif di Abu Dhabi untuk membahas kemungkinan tetap mematuhi ketentuan New START nuklir meski masa berlakunya berakhir. Sejumlah laporan menyebut kedua pihak mendekati kesepakatan politik sementara.
Gedung Putih belum menyampaikan pernyataan resmi. Namun kebijakan pengendalian senjata nuklir AS berada di bawah kewenangan Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dijelaskan dalam kebijakan luar negeri Departemen Luar Negeri AS
https://www.state.gov/arms-control-and-international-security/
Dampak New START Nuklir bagi Stabilitas Global
Pengamat keamanan menilai berakhirnya New START nuklir dapat mendorong peningkatan jumlah hulu ledak strategis. Amerika Serikat dan Rusia saat ini masing-masing masih memiliki sekitar 4.000 hulu ledak nuklir.
Tanpa pembatasan, negara lain berpotensi menyesuaikan kebijakan pertahanannya. Kondisi ini berisiko memperlebar ketegangan global dan melemahkan upaya non-proliferasi.
China dan Tantangan Pengendalian Senjata Nuklir
Pemerintah AS mendorong keterlibatan China dalam kesepakatan pengendalian senjata nuklir. Namun Beijing menolak pendekatan trilateral dengan alasan jumlah hulu ledaknya jauh lebih kecil.
China diperkirakan hanya memiliki sekitar 600 hulu ledak. Perbedaan kapasitas ini membuat negosiasi multilateral menghadapi jalan buntu.
Masa Depan New START Nuklir
New START nuklir ditandatangani pada 2010 dan sempat diperpanjang lima tahun oleh Joe Biden dan Vladimir Putin. Setelah masa perpanjangan berakhir, tidak ada mekanisme otomatis untuk memperpanjang perjanjian tersebut.
Kini, kelanjutan pengendalian senjata nuklir sepenuhnya bergantung pada keputusan politik Washington dan Moskow. Dampaknya akan menentukan arah stabilitas keamanan global dalam beberapa tahun ke depan.

Partner with us for high-paying affiliate deals—join now!
6 Februari 2026 7:09 am