Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Global pada Dolar AS
- account_circle Rahman
- calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
- visibility 166
- comment 0 komentar
- print Cetak

Uang rupiah dan dolar AS. Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan di tengah tekanan global terhadap dolar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com – Nilai tukar rupiah kembali menguat pada awal perdagangan Selasa (10/2/2026), memberi sinyal perbaikan sentimen pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Rupiah dibuka di level Rp16.770 per dolar AS, menguat dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan ini penting bagi publik karena stabilitas rupiah berpengaruh langsung terhadap harga barang impor, biaya energi, dan tekanan inflasi domestik. Setelah beberapa hari bergerak tertekan, rupiah kini memperoleh ruang pemulihan seiring melemahnya minat pasar terhadap dolar AS.
Perubahan Sentimen Pasar Global
Data perdagangan menunjukkan rupiah terapresiasi sekitar 0,15 persen pada pembukaan pasar. Sehari sebelumnya, mata uang Garuda juga menutup perdagangan dengan penguatan 0,39 persen di level Rp16.795 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar global mulai mengurangi eksposur pada aset berdenominasi dolar.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat di kisaran 96,96. Meski menguat tipis secara intraday, indeks tersebut masih berada dalam tekanan setelah sebelumnya melemah tajam.
Tekanan terhadap Dolar dari Asia dan Data AS
Tekanan terhadap dolar AS meningkat setelah muncul laporan bahwa regulator di China mengimbau lembaga keuangan domestik menahan laju pembelian surat utang pemerintah Amerika Serikat. Isu ini memicu kekhawatiran pasar akan berkurangnya permintaan asing terhadap aset safe haven berbasis dolar.
Dari sisi domestik AS, pernyataan Direktur National Economic Council, Kevin Hassett, turut memengaruhi sentimen. Ia menilai pasar perlu bersiap menghadapi data ketenagakerjaan yang lebih lemah, seiring perlambatan pertumbuhan populasi dan peningkatan produktivitas.

Arah Kebijakan The Fed Masih Jadi Penentu
Pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan Federal Reserve. Spekulasi pelonggaran moneter kembali menguat, terutama setelah muncul wacana pergantian kepemimpinan bank sentral AS.
Berdasarkan kontrak berjangka, peluang pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Maret tercatat sekitar 17,8 persen menurut CME Group FedWatch Tool. Ketidakpastian ini mendorong investor bersikap hati-hati dan menahan posisi di dolar AS.
Dampak bagi Rupiah dan Pasar Domestik
Kondisi global tersebut membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dalam jangka pendek, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan selama tekanan terhadap dolar AS bertahan dan tidak muncul gejolak baru di pasar global.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, penguatan rupiah berpotensi menekan biaya impor dan membantu menjaga stabilitas harga. Namun, volatilitas tetap tinggi sehingga pasar masih membutuhkan kepastian arah kebijakan global.
Penguatan rupiah pada awal perdagangan mencerminkan perubahan sementara dalam peta sentimen global. Meski memberi sinyal positif, pergerakan nilai tukar ke depan masih sangat bergantung pada dinamika ekonomi AS, kebijakan bank sentral utama, serta respons investor terhadap risiko global.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana

Saat ini belum ada komentar