Copernicus Climate Change Service mencatat rata-rata suhu permukaan laut di wilayah samudra ekstra-polar mencapai sekitar 20,97 derajat Celsius pada Maret 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah untuk bulan Maret, sedikit di bawah rekor pada 2024.
Sepanjang bulan itu, suhu laut menunjukkan tren kenaikan yang konsisten hingga mendekati puncak sebelumnya.
Sinyal El Nino Semakin Kuat
Sejumlah lembaga iklim global memprediksi peralihan dari kondisi netral menuju El Nino pada paruh kedua 2026. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator menghangat.
Kondisi tersebut biasanya mendorong kenaikan suhu global dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem, termasuk kekeringan dan gelombang panas di berbagai wilayah.
Suhu Global Ikut Meningkat
Selain laut, suhu udara global juga mencatat lonjakan. Pada Maret 2026, suhu rata-rata global mencapai sekitar 1,48 derajat Celsius di atas level praindustri.
Di Eropa, masyarakat merasakan bulan Maret terpanas kedua sepanjang sejarah. Banyak wilayah juga mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan rata-rata.
Sementara itu, beberapa kawasan di Amerika Serikat dan Meksiko menghadapi cuaca panas ekstrem lebih awal serta penurunan curah hujan.
Kondisi Arktik Kian Mengkhawatirkan
Wilayah Arktik menunjukkan tanda tekanan iklim yang semakin nyata. Luas es laut mencapai titik terendah untuk periode Maret, baik pada puncak tahunan maupun rata-rata bulanan.
Penurunan ini memperlihatkan percepatan pencairan es yang dapat berdampak pada kenaikan permukaan laut global.
Peringatan Ilmuwan Iklim
Direktur European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, Carlo Buontempo, menilai data ini sebagai sinyal serius.
Ia menegaskan bahwa setiap indikator menunjukkan tekanan berkelanjutan pada sistem iklim. Jika tren ini terus berlanjut, dunia akan menghadapi dampak yang semakin luas dan intens.
Ancaman Cuaca Ekstrem Meningkat
Kenaikan suhu laut dan potensi El Nino dapat memperparah berbagai bencana iklim. Gelombang panas, kekeringan, hingga gangguan ekosistem berpotensi terjadi lebih sering.
Karena itu, para ahli mendorong peningkatan kesiapsiagaan global untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang kian nyata.
Saat ini belum ada komentar