Indonesia dan Board of Peace: Langkah Aktif untuk Mempercepat Pemulihan Gaza
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
- visibility 125
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump (kiri) menyalami Presiden Prabowo Subianto (tiga kanan) selepas acara peluncuran Dewan Perdamaian (Board of Peace) Gaza di Congress Hall WEF 2026, Kota Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).duasatunews.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, dusatunews.com – Perbincangan publik mengenai rencana keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) terus menguat. Masyarakat Indonesia menunjukkan solidaritas kuat terhadap Palestina. Namun, sebagian publik juga mempertanyakan istilah New Gaza yang beredar. Dalam situasi ini, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka alasan Indonesia terlibat di Board of Peace dengan pendekatan rasional dan berbasis data.
Board of Peace dan Fokus Rekonstruksi Kemanusiaan
Board of Peace memimpin agenda rekonstruksi kemanusiaan pascakonflik. Forum ini tidak menyusun proyek bisnis atau pengembangan properti. Sebaliknya, Board of Peace mengoordinasikan pemulihan kehidupan warga sipil yang kehilangan rumah, layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar akibat konflik berkepanjangan. Fokus ini menempatkan kemanusiaan sebagai tujuan utama.
Skala Kerusakan Gaza yang Mendesak Penanganan
Konflik bersenjata merusak sebagian besar wilayah Gaza yang luasnya sekitar 365kilometer persegi. Kawasan tersebut kehilangan permukiman warga, rumah sakit, sekolah, serta jaringan air dan listrik. Berbagai laporan internasional mencatat kerusakan berat di hampir seluruh kawasan. Sejumlah kajian juga memperkirakan lebih dari 90 persen infrastruktur sipil rusak berat.
Kondisi ini memaksa ratusan ribu keluarga hidup tanpa hunian layak dan layanan dasar. Situasi tersebut menempatkan rekonstruksi Gaza sebagai kebutuhan kemanusiaan yang tidak dapat ditunda.
Tantangan Pendanaan Rekonstruksi Gaza
Selain kehancuran fisik, Gaza menghadapi krisis pembiayaan. Berbagai estimasi internasional menempatkan kebutuhan dana rekonstruksi pada kisaran puluhan miliar dolar AS. Pemerintah Palestina tidak mampu menutup kebutuhan tersebut secara mandiri karena keterbatasan fiskal.
Tekanan geopolitik dan status hukum juga membatasi akses Palestina terhadap pembiayaan jangka panjang di pasar keuangan global. Tanpa skema pendanaan kolektif, pemulihan Gaza berpotensi berjalan lambat dan memperpanjang penderitaan warga sipil.
Board of Peace sebagai Mekanisme Percepatan Pemulihan
Melalui Board of Peace, komunitas internasional mengoordinasikan kontribusi negara-negara anggota untuk membiayai dan mengelola rekonstruksi wilayah konflik. Forum ini menetapkan perencanaan, mengawasi aliran dana, dan memastikan bantuan menjangkau kebutuhan warga sipil.
Pendekatan terkoordinasi ini mempercepat proses rekonstruksi dan meningkatkan akuntabilitas dibandingkan bantuan konvensional yang terfragmentasi.
Posisi Strategis Indonesia dalam Diplomasi Perdamaian
Indonesia membawa pengalaman panjang dalam diplomasi perdamaian dan kerja kemanusiaan. Selama ini, Indonesia konsisten menyuarakan dukungan terhadap Palestina di berbagai forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan menekankan perlindungan warga sipil dan penegakan hukum humaniter.
Indonesia juga mengirimkan pasukan penjaga perdamaian dan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik. Rekam jejak ini memberi Indonesia legitimasi moral untuk mengawal agenda rekonstruksi Gaza.
Meluruskan Kekhawatiran Publik
Sebagian publik mengaitkan Board of Peace dengan agenda tersembunyi Israel. Fakta menunjukkan Israel tidak bergabung dalam forum tersebut. Bahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengkritik inisiatif ini.
Sebaliknya, negara-negara berpenduduk Muslim mendominasi keanggotaan Board of Peace. Komposisi ini memperkuat pengawasan agar rekonstruksi Gaza tetap berpijak pada prinsip kemanusiaan dan menghormati hak-hak rakyat Palestina.
Dari Solidaritas Menuju Solusi Nyata
Keterlibatan Indonesia di Board of Peace bukan sekadar simbol. Langkah ini memberi Indonesia ruang untuk mengawal penggunaan dana rekonstruksi dan memastikan pembangunan kembali Gaza berpihak pada warga sipil.
Laporan dari Institute for Economics and Peace menunjukkan konflik bersenjata menekan tingkat perdamaian dan stabilitas global. Karena itu, percepatan pemulihan Gaza juga berkontribusi pada stabilitas kawasan.
Penutup
Dalam politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia perlu hadir dalam mekanisme solusi. Melalui Board of Peace, Indonesia mengambil langkah nyata untuk mempercepat pemulihan, menjaga martabat kemanusiaan, dan memperkuat peran sebagai aktor perdamaian global.
- Pandangan dan opini yang dinyatakan di halaman ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Kantor Berita/duasatunews.com
