Insiden UNIFIL Lebanon, Indonesia Desak DK PBB Bertindak
- account_circle adrian moita
- calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
- visibility 159
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suasana upacara pelepasan dan penghormatan tiga jenazah personel penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Hanggar Lebanese Air Force, Beirut Lebanon, Kamis (2/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA (duasatunews.com) – insiden UNIFIL Lebanon kembali menjadi sorotan setelah ledakan di El Addaiseh, Lebanon selatan, Jumat (3/4), melukai tiga prajurit TNI.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Pemerintah menilai peristiwa ini serius karena terjadi berulang dalam waktu singkat.
Investigasi Insiden UNIFIL oleh DK PBB
Indonesia meminta Dewan Keamanan PBB segera mengusut insiden yang menimpa pasukan UNIFIL.
Selain itu, Indonesia juga mendorong pertemuan negara kontributor pasukan. Dengan demikian, evaluasi menyeluruh dan penguatan perlindungan dapat segera dilakukan.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian tidak dapat diterima. Oleh karena itu, keselamatan personel menjadi prioritas utama dalam setiap misi.
Lebih lanjut, Indonesia meminta penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan transparan agar pihak terkait dapat mengungkap fakta serta menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
Eskalasi Konflik di Lebanon Selatan
Sementara itu, pemerintah menyoroti peningkatan operasi militer Israel di Lebanon selatan. Akibatnya, kondisi keamanan di wilayah tersebut semakin tidak stabil.
Bahkan, situasi ini meningkatkan risiko terhadap pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di lapangan. Oleh sebab itu, perlindungan tambahan menjadi kebutuhan mendesak.
Dampak Insiden UNIFIL Lebanon bagi Prajurit Indonesia
Dalam sepekan terakhir, serangkaian kejadian di wilayah misi menimbulkan korban dari Indonesia.
Pertama, Praka Dua Farizal Rhomadhon gugur pada 29 Maret akibat tembakan artileri di sekitar Adchit Al Qusayr.
Kemudian, sehari berselang, serangan terhadap konvoi menewaskan Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Di samping itu, lima prajurit mengalami luka, yakni Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana, Praka Deni Rianto, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Terakhir, ledakan terbaru kembali menambah korban luka. Dengan demikian, total delapan prajurit TNI mengalami luka selama menjalankan tugas di Lebanon.
Respons Indonesia dan Komitmen Perdamaian
Sebagai penutup, pemerintah menyampaikan solidaritas kepada seluruh prajurit dan keluarga. Selain itu, pemerintah berharap para korban luka segera pulih dan dapat kembali bertugas.
Ke depan, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung misi perdamaian dunia, sekaligus mendorong peningkatan sistem perlindungan bagi seluruh personel di wilayah konflik.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
