Donald Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 50
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden AS Donald Trump.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON, (duasatunews.com) – Donald Trump batalkan kunjungan utusan ke Pakistan. Trump membatalkan perjalanan utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner yang seharusnya bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk membahas kesepakatan damai.
Araghchi tiba di Pakistan pada Jumat (24/4/2026), namun meninggalkan negara itu pada Sabtu (25/4/2026) untuk melanjutkan perjalanan ke Oman dan Rusia. Di Islamabad, Araghchi bertemu dengan beberapa pejabat senior Pakistan, namun tidak ada kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan AS.
Trump menjelaskan bahwa pembicaraan di Islamabad tidak membuahkan hasil dan memerlukan biaya tinggi. Oleh karena itu, ia memutuskan membatalkan kunjungan Witkoff dan Kushner. Trump menambahkan bahwa Iran menambah tuntutan, yang membuat kesepakatan damai menjadi lebih sulit tercapai.
Kebingungan Internal Iran dan Tuntutan Damai yang Lebih Berat
Trump menyampaikan pandangannya di media sosial, menyebutkan bahwa Iran menghadapi “pertikaian dan kebingungan luar biasa” dalam kepemimpinannya. Trump menegaskan bahwa AS memiliki semua kartu dalam perundingan dan menyarankan Iran untuk menghubungi langsung AS jika ingin melanjutkan pembicaraan.
Setelah Araghchi meninggalkan Pakistan, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan mengikuti negosiasi yang dipaksakan atau di bawah ancaman. Iran meminta AS untuk menghentikan blokade terhadap pelabuhan mereka sebagai syarat untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih konstruktif.
Perundingan Damai yang Terhambat: Kesepakatan AS-Iran yang Terus Tertunda
Pembicaraan dengan Iran terus terhambat karena peningkatan tuntutan dan perbedaan pandangan yang tajam antara kedua belah pihak. Meskipun demikian, Trump masih menunjukkan minat untuk melanjutkan pembicaraan jika Iran siap menerima kesepakatan yang adil.
Pezeshkian juga menyatakan bahwa Iran bersedia berbicara jika AS mengubah sikapnya, terutama dalam mengakhiri blokade dan sanksi ekonomi yang berlaku. Namun, tantangan yang ada membuat perundingan ini semakin sulit.
- Penulis: Adrian Moita
- Editor: Nur Wayda
