Pencegahan Ebola Bandara AS diperkuat jelang Piala Dunia 2026
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
- visibility 74
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi - Virus Ebola
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON (duasatunews.com) – Pencegahan Ebola Bandara AS menjadi langkah utama pemerintah Amerika Serikat menjelang Piala Dunia FIFA 2026. Pemerintah AS memasang alat uji Ebola di seluruh bandara utama untuk mengantisipasi masuknya virus melalui perjalanan internasional selama turnamen berlangsung.
Administrator Pusat Layanan Medicare dan Medicaid AS, Mehmet Oz, mengatakan pemerintah memperkuat pengawasan kesehatan di pintu masuk negara. Langkah tersebut bertujuan mencegah penyebaran Ebola selama Piala Dunia berlangsung.
Piala Dunia FIFA 2026 akan mencatat sejarah baru dengan keikutsertaan 48 tim nasional. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama. Turnamen berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
“Kami sengaja memasang alat dan sistem pengujian di bandara utama yang akan dilalui para pelancong,” kata Oz dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Oz juga menyatakan kepercayaannya kepada Direktur Institut Kesehatan Nasional AS, Jay Bhattacharya. Ia menilai Bhattacharya memiliki kemampuan untuk membantu pemerintah mengantisipasi penyebaran Ebola.
“Saya sangat percaya pada kemampuan Jay. Dia ilmuwan brilian dan memahami banyak hal tentang virus. Dia akan mengambil keputusan yang tepat dan transparan,” ujar Oz.
Menurut Oz, alat pengujian dan sistem pemantauan kesehatan akan membantu petugas mendeteksi potensi risiko kesehatan sejak dini. Pemerintah berharap langkah ini dapat menjaga keamanan masyarakat selama turnamen berlangsung.
Pada 15 Mei, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga 31 Mei menunjukkan 210 orang tertular Ebola di Republik Demokratik Kongo. Wabah itu merenggut 17 korban jiwa.
PBB juga mencatat sekitar 350 kasus suspek yang masih dalam penyelidikan. Selain itu, virus Ebola menginfeksi 16 tenaga kesehatan.
Virus Ebola dapat menyebabkan penyakit berat dengan risiko kematian tinggi. Virus ini berpindah dari hewan liar, seperti kelelawar dan primata, kepada manusia.
Seseorang dapat tertular Ebola melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita. Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang membawa virus.
PBB memperkirakan tingkat kematian rata-rata akibat Ebola mencapai 50 persen. Dalam beberapa wabah, angka kematian bahkan menyentuh 90 persen.
Ilmuwan pertama kali mengenali virus Ebola pada 1976. Wabah terbesar terjadi di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016.
WHO mencatat lebih dari 28.600 orang tertular Ebola pada periode tersebut. Sebanyak 11.325 orang meninggal akibat penyakit itu.
Sumber: Sputnik
- Penulis: Adrian Moita
- Editor: Nur Wayda
