Operasi AS di Venezuela Picu Ketegangan Geopolitik
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 293
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com — Operasi AS di Venezuela pada 3 Januari 2026 memicu perhatian luas komunitas internasional. Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan AS, serta memicu krisis geopolitik di kawasan Amerika Latin.
(Baca juga laporan terkait di kanal Geopolitik Global: https://duasatunews.com/category/geopolitik-global)
Presiden AS Donald Trump menyatakan aparat AS menangkap Maduro atas dugaan kejahatan narkotika. Tuduhan tersebut mencakup narco-terrorism dan konspirasi impor kokain ke Amerika Serikat. Setelah operasi, aparat AS menerbangkan Maduro ke New York dan membawanya ke pengadilan federal di distrik selatan Manhattan.
(Latar kebijakan luar negeri AS dapat dibaca di rubrik Amerika Serikat: https://duasatunews.com/tag/amerika-serikat)
Pemerintah Venezuela mengecam langkah AS dan menyebut penangkapan tersebut sebagai “penculikan.” Mahkamah Agung Venezuela kemudian menunjuk Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara untuk mengisi kekosongan kepemimpinan.
Analis Soroti Motif Energi dalam Operasi AS di Venezuela
Di balik tuduhan narkoba, sejumlah analis internasional menyoroti faktor energi. Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 300 miliar barel. Namun, produksi minyak negara tersebut menurun akibat kerusakan infrastruktur dan sanksi internasional.
(Analisis energi global terkait dapat dibaca di kanal Energi & SDA: https://duasatunews.com/category/energi-sda)
Trump sebelumnya menyatakan perusahaan minyak besar AS siap masuk untuk memperbaiki ladang minyak dan membangun kembali fasilitas produksi. Pernyataan itu mendorong spekulasi bahwa akses energi menjadi salah satu pertimbangan utama Washington dalam operasi AS di Venezuela.
Reaksi Internasional atas Operasi Militer Amerika Serikat
Sejumlah negara dan tokoh internasional menyampaikan kecaman. Rusia menyebut langkah AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman bagi stabilitas global. Para pakar hukum internasional mempertanyakan legalitas AS mengadili kepala negara asing.
Beberapa negara lain menilai tindakan tersebut melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memperburuk hubungan Washington dengan komunitas global.
(Dokumen dan pernyataan resmi dapat dirujuk di laman PBB: https://www.un.org)
Dampak Politik dan Keamanan Regional
Setelah penggulingan Maduro, pemerintahan interim Delcy Rodríguez mulai membebaskan sejumlah tahanan politik atas permintaan AS. Sebagian pihak menyambut langkah ini, sementara pihak lain menyikapinya dengan skeptis.
Laporan internasional menyebut AS berupaya mengendalikan ekspor minyak Venezuela dalam jangka panjang. Strategi ini berpotensi memengaruhi pasar minyak dunia dan geopolitik energi global. Operasi militer tersebut juga menimbulkan korban, termasuk anggota keamanan Venezuela dan warga sipil yang mengalami luka.
Peristiwa ini menandai fase baru hubungan AS–Venezuela dan berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan.
(Pernyataan resmi pemerintah AS tersedia di situs Gedung Putih: https://www.whitehouse.gov)

Saat ini belum ada komentar