Awas Perang Baru Arab Memanas, Saudi Bombardir Yaman
- account_circle Darman
- calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
- visibility 156
- comment 0 komentar
- print Cetak

Konflik Yaman memanas setelah Arab Saudi serang Yaman dan menargetkan kelompok STC
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com — Arab Saudi serang Yaman melalui operasi militer terbatas yang dijalankan koalisi pimpinan Arab Saudi pada Rabu (7/1/2026). Langkah ini muncul sebagai respons langsung terhadap meningkatnya aktivitas kelompok separatis di wilayah timur Yaman. Melalui operasi tersebut, Riyadh berupaya menahan eskalasi konflik sekaligus menjaga stabilitas perbatasan.
Selain itu, serangan ini menandai operasi kedua dalam dua pekan terakhir. Koalisi Saudi secara terbuka menargetkan Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang dipimpin Aidaros Alzubidi. Kelompok tersebut secara aktif mendorong pembentukan negara Yaman Selatan dan memperoleh dukungan politik serta logistik dari Uni Emirat Arab.
Sementara itu, koalisi Saudi meningkatkan koordinasi dengan pemerintah Yaman dan otoritas lokal. Melalui kerja sama tersebut, Riyadh ingin memperkuat keamanan wilayah dan mencegah perluasan konflik. Pernyataan resmi ini disampaikan kepada media internasional Agence France-Presse sebagai bentuk penegasan sikap.
Arab Saudi Serang Yaman dan Perebutan Hadramaut
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah STC merebut sejumlah wilayah strategis. Kelompok tersebut menguasai sebagian besar Hadramaut, provinsi yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Selanjutnya, pasukan STC mengendalikan jalur logistik utama dan mendorong mundur pasukan pemerintah Yaman dari beberapa titik pertahanan penting.
Akibatnya, situasi ini memicu kekhawatiran regional. Banyak analis menilai Hadramaut memiliki nilai geopolitik tinggi karena berfungsi sebagai zona penyangga keamanan Saudi serta jalur ekonomi utama Yaman bagian timur. Selain itu, eskalasi ini juga memperlihatkan keretakan serius di antara pihak-pihak yang sebelumnya berada dalam satu poros koalisi.
Oleh karena itu, Arab Saudi melancarkan serangan balasan pada pekan lalu. Melalui operasi tersebut, Riyadh mengklaim berhasil merebut kembali beberapa lokasi strategis. Pada saat yang sama, pemerintah Saudi menyampaikan peringatan langsung kepada Uni Emirat Arab agar menahan diri dan tidak memperluas konflik.
Akhirnya, para pengamat Timur Tengah menilai eskalasi ini berpotensi memperpanjang instabilitas kawasan. Tanpa langkah diplomasi yang konkret dan komitmen deeskalasi, konflik internal Yaman berisiko berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas dan mengancam keamanan Jazirah Arab.
