Sudah Saatnya Menghadirkan Pendidikan Berorientasi Masa Depan
- account_circle Rahman
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 208
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pendidikan dinilai menjadi kunci perubahan mentalitas bangsa Indonesia di tengah tantangan bonus demografi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com – Kualitas manusia Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Masalah ini tidak berhenti pada aspek ekonomi, tetapi menyangkut karakter sosial yang memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Isu mentalitas menjadi krusial saat Indonesia memasuki fase bonus demografi dan menghadapi persaingan global. Tanpa perubahan sikap dan pola pikir, peluang tersebut justru dapat memicu persoalan sosial baru. Pembangunan fisik tidak akan berjalan efektif jika karakter manusianya tertinggal.
Antropolog Koentjaraningrat sejak lama mengkritik sikap menerabas, lemahnya disiplin, dan rendahnya tanggung jawab di masyarakat. Ia menilai pola tersebut menghambat pembangunan manusia secara menyeluruh. Wartawan senior Mochtar Lubis juga mengungkap persoalan serupa dengan menyoroti kuatnya budaya feodal dalam relasi sosial.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan kembali kritik tersebut. Ia menyebut mentalitas feodal masih bertahan dan sering disertai kegemaran berlebihan pada hiburan. Haedar menilai kondisi ini harus segera diubah melalui langkah nyata. Ia menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama transformasi mental bangsa. Ia juga meminta lembaga pendidikan terus bersikap kritis dan inovatif, bukan bertahan di zona nyaman.
Sejumlah pemerhati pendidikan menilai pandangan itu relevan dengan kondisi saat ini. Mereka melihat banyak institusi pendidikan masih menekankan capaian administratif. Penguatan karakter dan daya nalar kritis belum menjadi fokus utama. Di sisi lain, publik juga menuntut negara menghadirkan kebijakan pendidikan yang konsisten dan berjangka panjang.
Jika perubahan mentalitas tidak segera berjalan, masyarakat akan menanggung dampaknya. Produktivitas tenaga kerja bisa stagnan. Kesenjangan sosial berpotensi melebar. Daya saing daerah juga berisiko tertinggal. Sebaliknya, pendidikan yang menanamkan disiplin dan tanggung jawab dapat memperkuat fondasi sosial.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak bisa ditunda. Pendidikan memegang peran sentral, tetapi membutuhkan komitmen bersama. Tanpa langkah konkret, kritik terhadap mentalitas bangsa akan terus berulang tanpa hasil nyata.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar