Kesepakatan Nuklir AS Iran Masuki Fase Baru
- account_circle adrian moita
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 123
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi bertemu dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, di Jenewa, Swiss, 26 Februari 2026. Kantor Berita Oman/Handout via REUTERS PERHATIAN EDITOR – GAMBAR INI DISEDIAKAN OLEH PIHAK KETIGA. GAMBAR TPX HARI INI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MUSCAT, (duasatunews.com) — Kesepakatan nuklir AS Iran kembali menjadi sorotan internasional setelah Oman mengungkap adanya terobosan penting dalam proses diplomasi antara Washington dan Teheran. Terobosan ini menekankan kebijakan tanpa penimbunan uranium serta pengawasan ketat oleh Badan Energi Atom Internasional.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al-Busaidi mengatakan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai pemahaman baru dalam diplomasi nuklir. Menurutnya, kesepakatan ini membuka peluang nyata bagi stabilitas kawasan dan mengurangi risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan CBS pada Jumat (27/2), Al-Busaidi menyatakan optimisme bahwa diplomasi dapat menghasilkan solusi jangka panjang. Ia menilai ruang dialog yang konsisten menjadi kunci keberhasilan perundingan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Nol Penimbunan Uranium dalam Kesepakatan Nuklir AS Iran
Al-Busaidi menjelaskan bahwa kesepakatan nuklir AS Iran mencakup kebijakan “nol akumulasi dan nol penimbunan” uranium. Iran sepakat menurunkan stok uranium ke tingkat terendah dan mengonversinya menjadi bahan bakar permanen yang tidak dapat dikembalikan ke bentuk sebelumnya.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan memverifikasi seluruh proses tersebut secara menyeluruh. Dengan mekanisme ini, para perunding berharap dapat membangun kepercayaan jangka panjang antara Iran dan komunitas internasional.
Verifikasi, Inspeksi, dan Tahapan Teknis
Menlu Oman menyebut IAEA akan menjalankan verifikasi penuh jika kesepakatan berlaku. Selain itu, ia membuka kemungkinan akses bagi inspektur Amerika Serikat pada tahap tertentu, selama semua pihak mematuhi kesepakatan secara berkelanjutan dan transparan.
Ia menambahkan bahwa para pihak dapat menyepakati komponen politik dalam waktu dekat. Sementara itu, pembahasan teknis akan berlanjut di Wina, dengan target penyelesaian implementasi dalam waktu sekitar 90 hari.
Diplomasi Tetap Jadi Opsi Utama
Al-Busaidi menegaskan tidak ada alternatif selain diplomasi untuk menyelesaikan isu nuklir Iran. Ia memperingatkan bahwa opsi militer hanya akan memperumit situasi dan berpotensi memperluas konflik regional.
Sementara itu, Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel mencari dalih untuk intervensi. Iran menegaskan pencabutan sanksi harus menyertai setiap pembatasan terhadap program nuklirnya agar kesepakatan dapat berjalan adil dan seimbang.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: DUASATUNEWS.COM
