jakarta,(duasatunews.com)// – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mengembalikan 550 anak tidak sekolah (ATS) ke bangku pendidikan melalui program Gerakan Kembali Bersekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Sulbar, Nehru Sagena, menyatakan capaian ini berasal dari total 1.700 anak yang tersebar di enam kabupaten. Ia menyampaikan keterangan itu saat peringatan Hari Pendidikan Nasional di Mamuju, Sabtu.
Sebaran Anak Kembali Sekolah
Secara rinci, Mamuju mencatat 141 anak kembali belajar. Polewali Mandar menyusul dengan 119 anak, sedangkan Majene mencapai 102 anak. Mamasa mencatat 92 anak, kemudian Pasangkayu 69 anak, dan Mamuju Tengah 27 anak.
Pelaksanaan Program Jemput ATS
Program berlangsung sejak Februari hingga April 2026. Selama periode itu, tim menyasar anak usia 16 hingga 21 tahun di 243 desa. Selain itu, program juga menjangkau 72 desa prioritas penanganan kemiskinan ekstrem dan stunting.
Sebanyak 407 petugas turun ke lapangan. Tim terdiri dari penyuluh KB, pendamping desa, pendamping PKH, serta tenaga pendidik. Mereka memverifikasi dan mengonfirmasi data secara langsung agar hasilnya akurat.
Kendala dan Alasan Anak Putus Sekolah
Namun, hasil pendataan menunjukkan 1.033 anak memilih tidak kembali bersekolah. Sebagian anak berpindah domisili, sementara lainnya menghadapi kondisi tertentu.
Nehru Sagena merinci penyebab utama. Sebanyak 314 anak berhenti karena menikah atau mengurus rumah tangga. Sebanyak 287 anak tidak berminat melanjutkan pendidikan, sedangkan 255 anak memilih bekerja.
Selain itu, 149 anak menghadapi kendala biaya. Jarak sekolah yang jauh menghambat 87 anak. Sementara itu, lingkungan memengaruhi 65 anak, dan faktor lain turut berperan dalam sejumlah kasus.
Dukungan Pemerintah Provinsi
Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, menilai capaian ini sebagai langkah awal yang positif, meski belum memenuhi target.
Pemerintah provinsi menyiapkan dukungan konkret. Mereka menyediakan seragam, perlengkapan sekolah, serta bantuan biaya pendidikan. Langkah ini bertujuan mencegah anak kembali putus sekolah.
Selain itu, pemerintah mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif. Program ini menuntut kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan.
Apresiasi pada Hardiknas
Pada kegiatan tersebut, pemerintah provinsi memberikan Satyalancana Karya Satya kepada tiga aparatur sipil negara sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka di bidang pendidikan.
Saat ini belum ada komentar