Dukungan Kesehatan Mental Dimulai dari Sikap Tidak Menghakimi
- account_circle Darman
- calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
- visibility 141
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dukungan kesehatan mental di lingkungan kerja perlu dimulai dari sikap tidak menghakimi. Pendekatan ini membantu menciptakan ruang aman dan mendorong keterbukaan di antara rekan kerja.
Jakarta, duasatunews.com — Psikolog Ayu Sadewo, S.Psi., menegaskan bahwa dukungan kesehatan mental tidak seharusnya berangkat dari keinginan memberi solusi secara cepat. Sebaliknya, ia meminta rekan kerja mendengarkan lebih dulu dan memahami sudut pandang orang lain.
Ayu menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Health Talk bertajuk Mind Matters: Menciptakan Ruang Aman untuk Sadar, Peduli, dan Saling Mendukung.
Menurut Ayu, setiap individu memiliki latar belakang dan kapasitas mental yang berbeda. Oleh karena itu, satu situasi dapat memunculkan respons emosional yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut, ia mengingatkan agar seseorang tidak menilai kondisi psikologis orang lain hanya dari perilaku luar.
“Dalam situasi yang sama, dua orang bisa merasakan hal yang berbeda. Dengan demikian, kita perlu menghargai sudut pandang masing-masing,” kata Ayu.
Dukungan Kesehatan Mental Membutuhkan Empati
Lebih lanjut, Ayu menjelaskan bahwa banyak orang langsung memberi penilaian saat melihat rekan kerja mengalami tekanan mental. Akibatnya, dukungan yang mereka maksudkan justru tidak tersampaikan dengan baik. Selain itu, kebiasaan membandingkan pengalaman pribadi sering mempersempit ruang dialog.
Menurut Ayu, empati memegang peran penting dalam dukungan kesehatan mental. Ketika seseorang mendengarkan tanpa menyela, lawan bicara akan merasa dihargai. Karena itu, proses komunikasi dapat berjalan lebih terbuka dan sehat.
Ruang Aman Memperkuat Dukungan Kesehatan Mental
Sementara itu, Ayu mendorong organisasi untuk membangun ruang aman di lingkungan kerja. Ruang aman memungkinkan karyawan berbicara secara jujur tanpa rasa takut dihakimi. Dengan cara ini, perusahaan dapat menumbuhkan kepercayaan dan solidaritas antarpekerja.
Ia menambahkan bahwa langkah sederhana dapat memberi dampak besar. Misalnya, rekan kerja dapat mendengarkan secara aktif dan menghormati perasaan orang lain. Dengan demikian, dukungan kesehatan mental tidak berhenti pada wacana.
Budaya Kerja Sehat dan Kesadaran Mental
Pada akhirnya, Ayu menilai dukungan kesehatan mental memerlukan peran bersama. Individu perlu menunjukkan empati, sementara organisasi perlu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan karyawan. Oleh sebab itu, budaya kerja yang sehat akan membantu menjaga kesehatan mental sekaligus produktivitas.
