Indonesia Percepat Kedaulatan Energi, Hilirisasi Nikel Perkuat Ekosistem Baterai Nasional
- account_circle Reski
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 66
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kawasan industri pengolahan nikel di Indonesia yang menjadi bagian dari hilirisasi nikel untuk mendukung ekosistem baterai nasional dan kendaraan listrik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta,(duasatunews.com)-Indonesia mempercepat hilirisasi nikel untuk memperkuat ekosistem baterai nasional sekaligus mendorong kedaulatan energi. Langkah ini menjadi semakin penting, terutama di tengah tekanan harga minyak global dan ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, pemerintah juga terus mengurangi ketergantungan pada energi fosil dengan mempercepat pengembangan kendaraan listrik berbasis nikel.
Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Mordekhai Aruan, menegaskan bahwa kebutuhan membangun rantai pasok kendaraan listrik sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, menurut dia, dorongan tersebut semakin kuat seiring target net zero emission 2060.
“Urgensi pengembangan rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel sudah terasa sejak dua hingga tiga tahun terakhir,” ujarnya.
Transformasi Industri dari Hulu ke Hilir
Selanjutnya, Indonesia mengubah strategi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen bernilai tambah. Kini, pelaku industri tidak lagi hanya menjual nikel mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi material utama baterai kendaraan listrik.
Di sisi lain, kebijakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kemandirian energi dan hilirisasi industri. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat fondasi industri nasional.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga menegaskan bahwa tingginya konsumsi energi fosil mendorong percepatan transisi energi bersih. Karena itu, pemerintah fokus membangun ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi.
Posisi Strategis di Rantai Pasok Global
Lebih lanjut, Indonesia kini menempati posisi strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Hal ini terjadi karena Indonesia memiliki cadangan nikel besar, dukungan investasi kuat, serta teknologi pengolahan yang terus berkembang.
Namun demikian, FINI menilai pembangunan smelter saja belum cukup. Sebaliknya, Indonesia perlu memperkuat ekosistem industri secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Peran Industri dalam Penguatan Ekosistem
Sementara itu, sektor industri juga активно mengambil peran. Salah satunya adalah PT QMB New Energy Materials yang berkontribusi dalam rantai pasok material baterai nasional.
Perusahaan ini memproduksi:
- 150.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun
- 30.000 ton NCM sulfates
- 50.000 ton prekursor katoda
Dengan demikian, perusahaan tersebut membantu menjaga stabilitas pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Tantangan dan Arah ke Depan
Meski demikian, tantangan tetap ada. Ke depan, Indonesia perlu mendorong investasi lebih besar agar mampu membangun ekosistem industri nikel yang terintegrasi.
Selain itu, pendekatan end-to-end juga menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam industri kendaraan listrik global.
Menuju Kemandirian Energi
Pada akhirnya, hilirisasi nikel tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. Oleh sebab itu, pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem baterai sebagai bagian dari transisi energi bersih.
Dengan langkah ini, Indonesia semakin dekat menuju kedaulatan energi berbasis teknologi baterai.
- Penulis: Reski
- Editor: nur waida

Saat ini belum ada komentar